Agroplus – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono menegaskan komitmen kuat Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian pascabencana di Sumatra. Pernyataan ini disampaikan dalam acara pelepasan bantuan Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) bagi korban banjir dan longsor Sumatra di Jakarta, baru-baru ini. Fokus utama Kementan adalah mengembalikan produktivitas lahan sawah dan sektor peternakan yang terdampak parah di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Berdasarkan pendataan awal, bencana tersebut telah memengaruhi sekitar 70 ribu hektare lahan pertanian. Dari jumlah yang signifikan itu, sekitar 11 ribu hektare di antaranya mengalami puso, sebuah kondisi di mana lahan rusak berat hingga tidak dapat menghasilkan panen.

"Lahan yang mengalami puso ini kondisinya sudah tidak menyerupai sawah lagi. Oleh karena itu, Kementan akan segera mengambil langkah konkret melalui program cetak sawah baru, lengkap dengan penyediaan benih unggul dan alat mesin pertanian (alsintan) modern, agar lahan tersebut dapat kembali produktif," jelas Sudaryono. Ia menambahkan bahwa proses pemulihan akan dilakukan secara bertahap, seiring dengan upaya pembersihan dan rehabilitasi menyeluruh di wilayah terdampak. Pendataan kondisi lahan pertanian yang rusak secara lebih rinci dijadwalkan akan dimulai pada awal Januari 2026.
Tidak hanya lahan puso, Kementan juga memberikan perhatian khusus pada lahan pertanian yang tidak mengalami gagal panen total, seperti yang hanya terendam banjir sementara atau mengalami gangguan distribusi. Untuk kasus ini, Kementan akan memberikan pendampingan intensif agar aktivitas produksi dapat segera kembali normal.
Sektor peternakan pun tak luput dari perhatian. "Kami akan mengidentifikasi semua jenis ternak yang terdampak, mulai dari ayam, sapi, hingga kambing. Kementan telah menyiapkan program pemulihan pascabencana yang mencakup bantuan ternak, pakan, serta sarana pendukung lainnya. Tujuannya jelas, agar usaha peternakan masyarakat bisa bangkit kembali dan mandiri," papar Sudaryono.
Tokoh muda asal Grobogan ini menekankan bahwa penanganan sektor pertanian pascabencana adalah wujud nyata komitmen negara dalam melindungi mata pencarian petani dan peternak. "Pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat pada masa darurat memang krusial, namun negara juga harus memastikan lahan dan usaha pertanian dapat segera pulih agar petani dan peternak bisa kembali berproduksi dan menopang ketahanan pangan," tegasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Sudaryono juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor. "Pemulihan pertanian bukanlah tugas yang bisa diemban sendiri. Kementerian Pertanian akan bersinergi erat dengan pemerintah daerah serta organisasi petani seperti HKTI, guna memastikan perbaikan sawah dan peternakan dapat terlaksana secara cepat, tepat sasaran, dan berkelanjutan," ujarnya.
Melalui serangkaian langkah strategis ini, Wamentan Sudaryono berharap pemulihan sektor pertanian di wilayah terdampak bencana di Sumatra dapat berjalan optimal, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap keberlanjutan ketahanan pangan nasional.
Reporter: Supianto