Agroplus – Pasar global semakin terbuka lebar bagi produk pertanian Indonesia. Belum lama ini, Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui unit kerjanya, Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri), berhasil memfasilitasi pengiriman santan kelapa beku sebanyak 129,4 ton menuju pasar Tiongkok. Langkah ini menandai keberhasilan pemerintah dalam mendorong hilirisasi komoditas perkebunan dan memperluas jangkauan ekspor produk turunan kelapa.
Hasim, Kepala Karantina Kepri, memastikan bahwa komoditas yang dikirim telah memenuhi seluruh standar dan persyaratan yang ditetapkan oleh negara tujuan. "Kami memfasilitasinya dengan tindakan karantina yang komprehensif, kemudian menerbitkan sertifikat kesehatan sebagai jaminan bahwa hasil pemeriksaan kami sesuai dengan amanat Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan," terang Hasim dalam pernyataan resminya belum lama ini. Tak hanya santan beku, Karantina Kepri juga menyertifikasi satu kontainer konsentrat air kelapa seberat 10,8 ton dalam kesempatan yang sama. Secara keseluruhan, nilai ekonomi ekspor produk turunan kelapa ini mencapai angka fantastis, Rp 5,7 miliar.

Petugas Karantina dari Satuan Pelayanan (Satpel) Tanjung Uban menjalankan pemeriksaan administrasi dan fisik secara teliti terhadap ekspor santan beku yang dilaporkan oleh pengguna jasa secara daring. Pemeriksaan ini krusial untuk memastikan kesesuaian komoditas dengan laporan, sehingga sertifikat yang diterbitkan akurat dan mencegah penolakan di negara tujuan.
Kinerja Ekspor Santan Beku yang Mengesankan
Merujuk pada data terkini yang terekam dalam aplikasi Best Trust (Barantin Electronic System for Transaction and Utility Service Technology), Satpel Tanjung Uban telah mencatat kinerja ekspor santan kelapa beku yang impresif. Sepanjang tahun ini (atau periode terakhir yang tercatat), frekuensi pengiriman mencapai 21 kali dengan volume total 1.460 ton, seluruhnya ditujukan ke Tiongkok. Nilai ekonomi dari hilirisasi komoditas ini mencapai angka yang sangat signifikan, yakni Rp 365,2 miliar.
Upaya pengolahan kelapa menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti santan, air kelapa, kelapa parut, arang, cocopeat, hingga cocofiber, merupakan implementasi nyata dari program hilirisasi komoditas. Inisiatif ini selaras dengan visi Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto yang tertuang dalam Program Asta Cita, bertujuan untuk memaksimalkan potensi sumber daya alam dan menciptakan nilai ekonomi yang lebih tinggi.
Barantin menegaskan komitmennya untuk terus mengawal dan memfasilitasi setiap produk hewan, ikan, tumbuhan, serta turunannya yang siap menembus pasar internasional. Hasim menjelaskan, proses hilirisasi atau industrialisasi produk diyakini menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah komoditas itu sendiri, mendongkrak devisa negara, sekaligus membuka lebih banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah secara konsisten mendorong para pelaku usaha untuk tidak berhenti berinovasi dalam mengolah bahan baku menjadi produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi, memperluas jangkauan pemasaran melalui teknologi informasi, dan meningkatkan efisiensi operasional dengan adopsi digitalisasi.
Sebagai wujud nyata dukungan terhadap efisiensi dan kemudahan, Barantin telah mengimplementasikan sistem perkarantinaan berbasis digital. Ini memungkinkan Permohonan Tindakan Karantina (PTK) dapat diajukan oleh pengguna jasa secara fleksibel, kapan pun dan dari mana saja. Petugas pun dapat merespons PTK tersebut dengan cepat melalui gawai mereka, memastikan proses pelayanan berjalan lebih mudah, efektif, dan efisien bagi semua pihak.
Hasim menutup pernyataannya dengan ajakan kepada para calon eksportir: "Jangan ragu untuk segera melapor ke karantina. Kami berkomitmen untuk memberikan layanan prioritas bagi setiap calon eksportir komoditas hewan, ikan, tumbuhan, dan produk turunannya. Seluruh layanan kami kini dapat diakses secara daring, menjadikannya lebih mudah, efektif, dan efisien bagi Anda," pungkasnya.