Agroplus – Kabar kurang menyenangkan datang dari pasar komoditas global. Harga minyak dunia kembali menunjukkan taringnya, melesat tajam dan menembus angka US$85 per barel pada Rabu (15/7/2026). Kenaikan drastis ini dipicu oleh eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali memanas, menimbulkan kekhawatiran serius akan terganggunya pasokan energi vital dari kawasan Teluk, terutama Selat Hormuz.
Berdasarkan data Refinitiv yang dipantau agroplus.co.id pada pukul 09.20 WIB, minyak mentah jenis Brent tercatat di US$85,72 per barel, melonjak 1,17% dari penutupan sebelumnya di US$84,73. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga tak mau ketinggalan, menguat 0.98% menjadi US$80,12 per barel dari posisi US$79,34. Ini merupakan kelanjutan dari tren kenaikan signifikan, di mana Brent telah melesat sekitar 2,9% dan WTI lebih dari 2,5% dalam dua hari perdagangan terakhir. Bahkan, jika dihitung sejak 10 Juli, lonjakan harga Brent mencapai hampir 13% dan WTI lebih dari 12%.

Lonjakan harga yang mengkhawatirkan ini tidak lepas dari kebijakan Presiden AS Donald Trump yang kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran. Respons Iran pun tak kalah sengit, dengan melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target militer dan infrastruktur AS di Timur Tengah. Eskalasi ini sontak memicu kekhawatiran mendalam bahwa konflik akan meluas, berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global yang krusial.
Melansir Reuters, militer AS pada Rabu dini hari dilaporkan kembali melancarkan serangan untuk melemahkan kemampuan Iran yang dituding digunakan dalam menyerang kapal-kapal komersial di Selat Hormuz. Di sisi lain, Teheran dengan tegas menyatakan kembali menutup jalur pelayaran strategis tersebut setelah konflik dengan AS kembali pecah pekan lalu. Selat Hormuz memang memiliki posisi yang sangat vital dalam rantai pasok energi global. Sebelum konflik ini memanas, sekitar seperlima perdagangan minyak dunia dan gas alam cair (LNG) melintasi jalur sempit ini setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun di kawasan ini akan langsung memengaruhi ekspektasi pasokan dunia dan mendorong investor untuk membayar premi risiko yang lebih tinggi.
Kekhawatiran pasar semakin membesar setelah Presiden Trump, dalam wawancara dengan Fox News, secara terbuka menyatakan bahwa target energi Iran masih menjadi opsi berikutnya. Pernyataan ini memperbesar spekulasi akan kemungkinan serangan yang dapat mengganggu produksi maupun ekspor minyak dari kawasan Teluk. Iran pun tidak tinggal diam. Angkatan bersenjata Iran mengklaim telah meluncurkan serangan drone ke pangkalan militer AS di Azraq, Yordania. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) juga mengaku menyerang gudang senjata dan fasilitas penyimpanan di Bahrain serta Kuwait, meskipun laporan ini belum dapat diverifikasi secara independen.
Bagi para pelaku pasar, risiko yang dihadapi kini tidak lagi terbatas pada penutupan Selat Hormuz semata. Perhatian kini mulai bergeser ke kemungkinan kerusakan infrastruktur energi di kawasan Teluk yang merupakan pemasok sebagian besar kebutuhan minyak dunia. Dampaknya bisa sangat luas.
Analis Pasar KCM Trade, Tim Waterer, memperingatkan bahwa peluang harga minyak kembali mendekati US$100 per barel masih sangat terbuka lebar apabila konflik terus meningkat dan mulai merusak fasilitas energi krusial di kawasan Teluk. Di sisi lain, apabila jalur diplomasi kembali berjalan dan Selat Hormuz dapat dibuka kembali, harga Brent diperkirakan akan bertahan pada kisaran US$75-80 per barel, memberikan sedikit ruang bernapas bagi pasar. Situasi ini menuntut perhatian serius dari seluruh pihak, mengingat dampak fluktuasi harga minyak yang bisa merambat ke berbagai sektor, termasuk biaya produksi pertanian dan logistik pangan.
