Bulog Makin Perkasa! Margin Fee Naik, Harga Beras Merata?
Agroplus – Kabar gembira datang dari sektor pangan nasional. Perum Bulog, sebagai garda terdepan ketahanan pangan Indonesia, kini tengah dipertimbangkan untuk menerima "hadiah" istimewa dari pemerintah. Hadiah ini berupa kenaikan margin fee yang signifikan, sebagai apresiasi atas kerja keras Bulog dalam menyerap hasil panen petani dan menjaga stabilitas pasokan beras di seluruh negeri. Langkah ini digadang-gadang akan memperkuat peran Bulog dalam mewujudkan swasembada pangan pada tahun 2025.

Pembahasan mengenai reward ini telah bergulir dalam Rapat Koordinasi Terbatas (Rakortas) yang dipimpin langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Pemerintah mengakui keberhasilan Bulog yang luar biasa dalam menyerap gabah dan beras petani, dengan total lebih dari 3 juta ton setara beras. Angka ini menunjukkan dedikasi Bulog dalam melindungi petani dari gejolak harga saat panen raya dan memastikan ketersediaan pangan bagi masyarakat. Proses usulan reward ini akan segera dilanjutkan ke tahapan berikutnya sesuai regulasi yang berlaku.
Salah satu poin krusial yang dibahas dalam Rakortas adalah penyesuaian skema margin fee penugasan Bulog. Jika selama ini Bulog hanya menerima Rp 50 per kilogram sejak tahun 2014, kini diusulkan untuk disesuaikan menjadi 10 persen dari kuantum biaya pengadaan setara beras. Perubahan ini bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk dukungan atas beban penugasan publik yang diemban Bulog yang terus meningkat seiring dinamika pangan nasional.
Direktur Utama Perum Bulog, Letjen TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani, menjelaskan bahwa usulan penyesuaian ini didasarkan pada prinsip kesetaraan. Ia merujuk pada skema penugasan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) strategis lain seperti PT PLN dan PT Pertamina yang juga memperoleh margin fee sebesar 10 persen dalam menjalankan mandat negara. "Dengan penyesuaian margin fee, diharapkan neraca keuangan Bulog yang selama ini negatif dapat menjadi positif, sehingga Bulog semakin optimal dalam menjalankan mandat pemerintah," tegas Rizal.
Rizal menambahkan, jika usulan ini disetujui, margin fee tersebut akan dimanfaatkan secara strategis untuk menjaga keberlanjutan operasional Bulog. Prioritasnya meliputi revitalisasi aset, pembaruan infrastruktur pascapanen yang krusial, serta penguatan sistem logistik pangan nasional. Semua ini demi mendukung visi Asta Cita Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan yang kokoh dan berkelanjutan.
Tak hanya itu, Rizal juga melontarkan gagasan inovatif terkait penjualan Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Ia mengusulkan konsep satu harga dari Sabang sampai Merauke, dengan patokan harga di zona termurah saat ini. Inisiatif ini bertujuan untuk menciptakan keadilan harga dan memangkas disparitas harga beras antarwilayah, memastikan akses pangan yang merata bagi seluruh masyarakat Indonesia, dari petani hingga konsumen akhir.
Melalui Rakortas ini, Perum Bulog kembali menegaskan komitmennya yang tak tergoyahkan. Mereka akan terus menjadi pilar utama dalam mendukung kebijakan pemerintah menjaga ketahanan pangan, melindungi kesejahteraan petani, serta memastikan harga pangan tetap terjangkau bagi masyarakat luas. Semua dilakukan dengan menjunjung tinggi prinsip kehati-hatian dan tata kelola perusahaan yang baik, demi masa depan pangan Indonesia yang lebih cerah.