agroplus.co.id – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi ujian berat setelah menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan, namun pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menegaskan telah menyiapkan strategi pengamanan melalui disiplin fiskal guna meredam gejolak ekonomi nasional.
Menanggapi pelemahan mata uang Garuda yang cukup signifikan, pihak otoritas keuangan menyatakan bahwa penanganan stabilitas nilai tukar merupakan kerja sama tim yang melibatkan dua instrumen utama: kebijakan moneter dan kebijakan fiskal. Kementerian Keuangan memastikan bahwa fokus utama mereka saat ini adalah menjaga kesehatan APBN dan memastikan kondisi fiskal tetap kokoh untuk menopang ekonomi di tengah tekanan eksternal.

Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sistem Keuangan (SPSK) Kementerian Keuangan, Herman Saheruddin, menjelaskan bahwa pembagian peran antara pemerintah dan bank sentral sudah sangat jelas. Menurutnya, urusan teknis mengenai intervensi pasar dan pengaturan suku bunga sepenuhnya merupakan wewenang Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter yang independen.
"Jika bicara mengenai detail penanganan rupiah, rekan-rekan di Bank Indonesia yang dapat memberikan penjelasan lebih mendalam. Prinsip kami di Kementerian Keuangan adalah memastikan sisi fiskal tetap terjaga dengan disiplin yang ketat," ujar Herman saat memberikan keterangan kepada media pada Kamis (22/10/2026).
Herman menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Ia mengibaratkan hubungan antara pemerintah dan BI layaknya sebuah tim sepak bola yang memiliki peran berbeda namun memiliki satu tujuan yang sama, yakni stabilitas ekonomi Indonesia. Dalam tim tersebut, ada yang bertugas sebagai pemain bertahan (defend), penyerang (attacking), hingga pengatur serangan (playmaker).
"Kami sangat menghormati independensi Bank Indonesia dalam menjalankan fungsi moneter. Sementara itu, dari sisi pemerintah, kami bertugas menjaga stabilitas fiskal. Keduanya harus bersinergi layaknya sebuah tim yang saling melengkapi," tambahnya.
Lebih lanjut, Herman menyoroti langkah-langkah strategis yang telah diambil oleh Bank Indonesia untuk menjaga likuiditas di pasar. Salah satunya adalah kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM), meskipun suku bunga acuan saat ini masih dipertahankan pada level tertentu untuk mengendalikan inflasi dan menjaga daya tarik aset domestik.
Meskipun data dari Refinitiv menunjukkan rupiah ditutup melemah ke level Rp18.045 per dolar AS pada perdagangan Kamis, Herman tetap mengajak masyarakat dan pelaku pasar untuk tidak panik. Ia meminta publik untuk tetap memiliki kepercayaan diri terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih memiliki daya tahan kuat.
"Saya rasa kita harus tetap percaya diri terhadap negara kita sendiri (be confident on our country)," pungkasnya. Dengan koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal yang disiplin dan kebijakan moneter yang responsif, pemerintah optimis stabilitas ekonomi nasional dapat segera kembali ke jalur yang diharapkan.
