agroplus.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menunjukkan performa yang sangat impresif pada penutupan perdagangan hari ini. Setelah sempat mengalami tekanan hebat di awal sesi, indeks mampu melakukan aksi balik arah yang dramatis hingga berhasil mendarat di zona hijau. IHSG ditutup pada level 5.387,91, mencatatkan kenaikan sebesar 59,54 poin atau tumbuh 1,12 persen.
Perjalanan IHSG hari ini tergolong penuh gejolak. Pada pembukaan pasar, indeks sempat terlihat lesu dan berada di zona merah pada level 5.247,98. Bahkan, tekanan jual sempat membuat indeks merosot cukup dalam hingga menyentuh angka penurunan 2 persen. Namun, sentimen positif mulai mengalir dan mendorong indeks merangkak naik secara bertahap hingga sempat menyentuh level tertinggi harian di angka 5.422,59 sebelum akhirnya stabil di penutupan.

Ramainya aktivitas transaksi terlihat dari volume perdagangan yang mencapai 331,29 juta lot. Nilai transaksi yang berputar di pasar modal hari ini juga sangat fantastis, yakni menyentuh angka Rp15,31 triliun.
Berdasarkan data dari Refinitiv, penguatan indeks ini tidak lepas dari dominasi saham-saham milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sejumlah emiten plat merah menjadi motor utama penggerak pasar, di antaranya adalah PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), serta PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM).
Menariknya, beberapa emiten BUMN ini tengah menjalankan strategi korporasi yang masif, salah satunya melalui program pembelian kembali saham atau buyback. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) diketahui telah mengalokasikan dana jumbo sebesar Rp1,17 triliun untuk periode 30 April 2026 hingga 29 April 2027. Langkah serupa juga diambil oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dengan alokasi dana buyback senilai Rp627 miliar yang dijadwalkan berlangsung pada periode Juli hingga Oktober 2026.
Tak ketinggalan, raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga tengah mempercepat program buyback saham dengan nilai maksimal mencapai Rp4 triliun. Hingga pertengahan Oktober 2026, sisa alokasi dana yang disiapkan Telkom masih sangat besar, yakni di atas Rp3 triliun.
Di sisi lain, kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia turut memberikan warna baru di pasar modal. Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa tekanan pasar yang terjadi belakangan ini justru dipandang sebagai peluang emas bagi pihaknya untuk masuk ke pasar saham Indonesia.
Pandu menjelaskan bahwa Danantara telah mulai melakukan aksi beli pada saham-saham yang dinilai memiliki harga menarik dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan. Fokus utama investasi mereka adalah pada saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat serta keseimbangan antara risiko dan imbal hasil (risk-reward) yang optimal.
Senada dengan hal tersebut, Managing Director Global Relations & Communications Danantara, Pahala Mansury, menjelaskan strategi penempatan dana mereka. Ia menyebutkan bahwa Danantara tidak melakukan pemilihan saham secara langsung (stock picking), melainkan bekerja sama dengan mitra profesional yang telah melalui proses uji tuntas (due diligence) yang ketat untuk memastikan kualitas investasi yang dilakukan.
