agroplus.co.id – Ambisi Indonesia untuk menjadi pusat data (data center) di kawasan Asia Tenggara kini menghadapi tantangan baru terkait keberlanjutan infrastruktur. Danantara Investment Management secara resmi mengeluarkan imbauan penting bagi para investor global yang berencana membangun pusat data berskala besar di tanah air. Fokus utamanya adalah memastikan bahwa ekspansi digital ini tidak mengorbankan stabilitas pasokan energi dan ketersediaan sumber daya air bagi masyarakat domestik.
Seiring dengan pesatnya digitalisasi dan kebutuhan akan penyimpanan data berbasis awan (cloud computing), permintaan akan pusat data di Indonesia melonjak tajam. Namun, fasilitas ini dikenal sebagai konsumen energi yang sangat rakus. Tanpa perencanaan yang matang, kehadiran pusat data raksasa dikhawatirkan akan menciptakan ketimpangan distribusi listrik di berbagai wilayah.

Danantara Investment Management menekankan bahwa regulasi atau anjuran ini terutama ditujukan bagi para pemain besar. Secara spesifik, investor yang berencana membangun pusat data dengan kapasitas konsumsi listrik di atas 500 megawatt diminta untuk memiliki strategi mandiri dalam penyediaan energi. Langkah ini diambil agar beban listrik nasional tidak terbebani secara mendadak oleh kebutuhan operasional pusat data yang berjalan nonstop selama 24 jam.
"Kami mendorong agar investasi pusat data di Indonesia dilakukan dengan memperhatikan ketersediaan energi dan air secara mendalam," tulis pernyataan resmi yang dikutip dari diskusi ekonomi baru-baru ini. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah dan lembaga pengelola investasi mulai beralih dari sekadar mengejar angka investasi, menuju investasi yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab secara sosial.
Selain masalah listrik, aspek ketersediaan air juga menjadi sorotan utama. Pusat data membutuhkan sistem pendingin (cooling system) yang sangat efisien untuk menjaga suhu server tetap stabil. Jika tidak dikelola dengan teknologi ramah lingkungan, penggunaan air dalam jumlah besar untuk pendinginan dapat memicu konflik kepentingan dengan kebutuhan air bersih masyarakat setempat.
Oleh karena itu, para investor kini didorong untuk mulai melirik teknologi energi terbarukan, seperti panel surya atau energi angin, sebagai bagian dari paket investasi mereka. Dengan menyiapkan sumber energi sendiri, para investor tidak hanya membantu menjaga stabilitas listrik nasional, tetapi juga meningkatkan profil ESG (Environmental, Social, and Governance) perusahaan mereka di mata dunia.
Langkah proaktif dari Danantara ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem industri digital yang sehat di Indonesia. Dengan adanya kepastian mengenai ketersediaan energi dan air, iklim investasi di sektor teknologi akan tetap terjaga tanpa harus mengorbankan kebutuhan dasar penduduk lokal. Indonesia ingin menjadi pemain utama digital, namun tetap dengan prinsip pembangunan yang berkelanjutan dan tidak merugikan ekosistem domestik.
