agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia kembali menunjukkan taringnya setelah Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melakukan manuver luar biasa pada perdagangan hari ini. Meski sempat tertekan di awal sesi, indeks acuan pasar saham tanah air ini justru berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat signifikan di zona hijau.
Fenomena menarik terjadi pada saham-saham milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendominasi pergerakan positif. Berdasarkan data dari Stockbit, sebanyak 19 emiten pelat merah mencatatkan kenaikan harga. Penguatan masif ini tersebar di berbagai sektor strategis, mulai dari perbankan, telekomunikasi, konstruksi, hingga energi.

Lonjakan harga saham BUMN ini dipicu oleh dua faktor utama: aksi borong besar-besaran oleh investor dan adanya program pembelian kembali saham atau buyback yang dilakukan oleh sejumlah perusahaan negara. Langkah korporasi ini memberikan sentimen positif bagi para pelaku pasar yang melihat adanya nilai intrinsik yang kuat pada emiten BUMN.
IHSG sendiri mengakhiri perdagangan di level 5.387,91, melonjak 59,54 poin atau tumbuh sebesar 1,12%. Perjalanan indeks hari ini tergolong dramatis. Pada pembukaan pasar, IHSG sempat terjun bebas ke level 5.247,98, bahkan sempat menyentuh penurunan hingga 2%. Namun, tekanan jual tersebut berhasil diredam hingga indeks mampu merangkak naik dan menyentuh level tertinggi harian di 5.422,59 sebelum akhirnya stabil di zona hijau.
Aktivitas transaksi di bursa juga terpantau sangat bergairah. Volume perdagangan mencapai 331,29 juta lot dengan nilai transaksi yang menembus angka Rp15,31 triliun.
Beberapa emiten yang menjadi motor penggerak penguatan antara lain PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) yang naik 4,05% ke level Rp3.850, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) yang melonjak 4,92% ke posisi Rp3.410. Sektor telekomunikasi juga ikut bersinar lewat PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang menguat 3,77% ke harga Rp2.200.
Di sektor properti, PT PP Properti Tbk. (PPRO) mencatatkan persentase kenaikan tertinggi mencapai 7,14%. Sementara itu, sektor energi dan tambang juga menunjukkan performa solid, terlihat dari kenaikan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebesar 4,41% dan PT Elnusa Tbk. (ELSA) sebesar 4,76%.
Sentimen positif ini semakin diperkuat dengan kabar rencana buyback besar-besaran. PT Telkom Indonesia, misalnya, telah menyiapkan dana hingga Rp4 triliun untuk program pembelian kembali sahamnya. Begitu pula dengan PT Bank Mandiri yang mengalokasikan dana Rp1,17 triliun, serta PT Bank Negara Indonesia dengan alokasi Rp627 miliar.
Selain aksi korporasi internal, kehadiran Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia turut menjadi katalisator. Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengungkapkan bahwa pihaknya mulai melakukan pembelian saham-saham di tengah tekanan pasar. Menurutnya, penurunan harga pasar justru menjadi peluang emas untuk masuk ke saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik.
Strategi Danantara dalam melakukan investasi dilakukan dengan sangat hati-hati melalui proses due diligence yang ketat. Mereka tidak melakukan stock picking secara sembarangan, melainkan bermitra dengan pihak profesional untuk memastikan keseimbangan antara risiko dan potensi keuntungan yang akan diperoleh.
