agroplus.co.id – PT Adhi Karya (Persero) Tbk. (ADHI) berhasil mencatatkan performa keuangan yang mengejutkan pada kuartal ketiga tahun ini. Perusahaan konstruksi milik negara tersebut melaporkan lonjakan laba bersih yang sangat signifikan, meskipun di tengah kondisi pendapatan yang mengalami sedikit kontraksi. Berdasarkan laporan keuangan terbaru yang dirilis melalui Bursa Efek Indonesia (BEI), laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk meroket hingga 247,05 persen.
Jika menilik data perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu, ADHI hanya membukukan laba sebesar Rp4,42 miliar. Namun, pada kuartal III tahun ini, angka tersebut melesat tajam menjadi Rp15,34 miliar. Pencapaian ini menjadi sorotan tajam para pelaku pasar, mengingat kenaikan laba yang begitu masif terjadi di tengah dinamika industri konstruksi yang penuh tantangan.

Menariknya, lonjakan laba ini tidak didorong oleh kenaikan pendapatan usaha. Sebaliknya, pendapatan usaha ADHI justru mengalami penurunan tipis sebesar 4,96 persen, dari yang sebelumnya tercatat Rp5,65 triliun menjadi Rp5,37 triliun. Fenomena ini menunjukkan bahwa strategi utama perusahaan dalam mendongkrak keuntungan bukan terletak pada ekspansi volume pekerjaan, melainkan pada efisiensi operasional yang sangat ketat.
Keberhasilan ADHI dalam menjaga margin keuntungan terletak pada kemampuannya menekan beban pokok pendapatan. Beban pokok tersebut berhasil ditekan sebesar 6,71 persen, turun dari Rp4,82 triliun menjadi Rp4,50 triliun. Efisiensi pada pos biaya produksi inilah yang menjadi motor penggerak utama kenaikan laba bruto perusahaan, yang kini menyentuh angka Rp876,58 miliar, naik 5,15 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Tidak hanya berhenti pada beban pokok, manajemen ADHI juga terlihat sangat disiplin dalam mengelola beban usaha lainnya. Beban usaha secara keseluruhan turun 3,02 persen menjadi Rp555,84 miliar. Penurunan paling mencolok terlihat pada beban penjualan yang anjlok hingga 24,13 persen menjadi Rp6,76 miliar. Selain itu, beban umum dan administrasi juga berhasil dikurangi sebesar 2,69 persen menjadi Rp549,09 miliar.
Berkat kombinasi efisiensi biaya tersebut, laba usaha perusahaan tumbuh positif sebesar 23,13 persen, mencapai Rp320,74 miliar. Meski demikian, perusahaan masih menghadapi beberapa tantangan di pos non-operasional. Salah satunya adalah pembengkakan kerugian pada entitas asosiasi yang naik tajam sebesar 141,83 persen menjadi Rp26,16 miliar.
Di sisi lain, posisi aset perusahaan juga mengalami sedikit penyesuaian. Total aset ADHI hingga kuartal III tercatat berada di angka Rp26,7 triliun, mengalami penurunan jika dibandingkan dengan posisi aset akhir tahun sebelumnya yang mencapai Rp27,7 triliun. Secara keseluruhan, laporan ini menggambarkan potret perusahaan yang sedang fokus pada penguatan struktur keuangan melalui efisiensi biaya di tengah fluktuasi pendapatan.
