Agroplus – Destry Damayanti, Gubernur sementara Bank Indonesia (BI), baru-baru ini menyampaikan sebuah peringatan krusial yang patut dicermati: dunia akan memasuki periode suku bunga tinggi yang berkepanjangan, atau yang dikenal dengan istilah ‘higher for longer’. Pernyataan ini muncul sebagai respons terhadap hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) yang baru saja berlangsung.
Menurut Destry, meskipun The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga Fed Fund Rate di level 3,50-3,75%, sinyal yang diberikan sangatlah jelas. Bank sentral AS tersebut masih sangat ‘hawkish’ atau agresif dalam upayanya menekan gejolak inflasi di negaranya. Hal ini mengindikasikan adanya potensi kenaikan suku bunga di masa mendatang, mengingat kekhawatiran mereka terhadap situasi ekonomi yang terus menunjukkan tren kenaikan harga.

Destry menekankan bahwa tren suku bunga acuan yang tinggi secara global ini tidak dapat dihindari akan memengaruhi tekanan imbal hasil surat berharga di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Situasi ini, yang mencakup suku bunga tinggi, imbal hasil obligasi, dan inflasi, akan berdampak signifikan pada negara-negara lain, khususnya pasar berkembang (emerging markets), dan secara khusus di Indonesia.
Sebagai negara emerging market, Indonesia akan merasakan langsung dampak dari era ‘higher for longer’ ini, yang pada gilirannya akan memengaruhi kebijakan ekonomi yang akan diambil oleh Bank Indonesia maupun pemerintah. Oleh karena itu, Destry menekankan pentingnya respons kebijakan moneter yang cermat untuk mengimbangi tekanan global ini. Dalam konteks Indonesia, fokus utama Bank Indonesia akan tetap pada upaya menjaga stabilitas inflasi dan nilai tukar Rupiah, yang menjadi pilar penting ketahanan ekonomi nasional di tengah gejolak global yang tidak menentu. Respons kebijakan moneter BI akan diselaraskan untuk memastikan stabilitas ekonomi domestik tetap terjaga.
