Agroplus – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), ditutup pada posisi Rp18.075/US$ pada Kamis (30/7/2026). Tekanan terhadap mata uang Garuda ini membesar seiring dengan penguatan tak terduga mata uang Paman Sam di pasar global, didorong oleh faktor geopolitik yang memanas.
Menurut data Refinitiv, pada penutupan perdagangan hari itu, rupiah harus mengalami depresiasi sebesar 0,17%. Pelemahan ini semakin terasa dibandingkan posisi pembukaan perdagangan pagi, di mana rupiah sempat dibuka melemah tipis 0,03% di level Rp18.050/US$, namun kemudian kehilangan 25 poin hingga akhir sesi.

Indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, terpantau berbalik menguat 0,17% ke posisi 101,052 pada pukul 15.00 WIB. Penguatan ini terjadi setelah DXY sempat terpuruk 0,52% pada perdagangan sebelumnya, merespons keputusan bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) yang kembali mempertahankan suku bunga acuannya.
Namun, angin segar yang sempat berhembus dari keputusan The Fed untuk menahan suku bunga, kini mulai memudar. Konflik geopolitik antara AS dan Iran yang kembali memanas, dengan laporan serangan udara AS di Iran, sontak memicu lonjakan permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe-haven. Kondisi ini turut menambah tekanan terhadap rupiah di pasar Asia.
Dalam rapat yang berakhir Rabu waktu AS, The Fed memang mempertahankan suku bunga acuannya pada rentang 3,50%-3,75%, sesuai dengan perkiraan mayoritas pelaku pasar. Namun, keputusan ini tidak diambil secara bulat. Tiga dari 12 anggota Federal Open Market Committee (FOMC) memilih berbeda, menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini.
Perbedaan suara tersebut mengindikasikan masih kuatnya kekhawatiran terhadap tekanan inflasi di kalangan pembuat kebijakan. The Fed sendiri menilai suku bunga saat ini masih cukup tinggi untuk menahan aktivitas ekonomi dan membantu membawa inflasi kembali turun menuju target 2%.
Arah kebijakan The Fed berikutnya juga menjadi lebih sulit dibaca setelah Ketua The Fed, Kevin Warsh, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan lagi memberikan petunjuk atau forward guidance mengenai pergerakan suku bunga. Warsh memastikan The Fed tetap siap mengambil tindakan apabila diperlukan untuk mengembalikan inflasi menuju sasaran 2%, namun setiap keputusan berikutnya akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi terbaru.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, kontrak Fed funds futures kini memperhitungkan probabilitas sebesar 34,9% bahwa The Fed kembali mempertahankan suku bunga pada pertemuan yang berakhir 16 September 2026. Peluang ini meningkat dari 24% sebelum hasil rapat terbaru diumumkan. Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati data inflasi dan pasar tenaga kerja AS untuk membaca arah kebijakan The Fed pada September, yang akan sangat menentukan pergerakan nilai tukar rupiah ke depan.
(Sumber: agroplus.co.id)
