Agroplus – Kabar gembira datang dari raksasa teknologi tanah air, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Perusahaan yang menaungi Gojek dan Tokopedia ini baru saja mengumumkan kinerja cemerlang pada kuartal kedua tahun 2026, mencatatkan rekor laba bersih yang signifikan. Kunci di balik lonjakan profitabilitas ini, menurut CEO GOTO Hans Patuwo, tak lain adalah performa gemilang dari lini bisnis Financial Technology (Fintech) mereka.
Dalam siaran pers yang dirilis pada Rabu (29 Juli 2026), GOTO melaporkan laba bersih sebesar Rp252 miliar untuk periode April-Juni 2026. Angka ini melonjak 47% dibandingkan kuartal sebelumnya dan menjadi pembalikan posisi dari kerugian di tahun sebelumnya. Tak hanya itu, EBITDA Grup yang disesuaikan juga melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya, meningkat lebih dari dua kali lipat secara tahunan. Hans Patuwo menegaskan, "Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya. Bisnis Fintech kami juga terus menunjukkan kinerja yang unggul. Kini, profitabilitasnya telah melebihi bisnis On-demand Services untuk pertama kalinya."

Sektor Fintech GOTO, yang dikenal melalui layanan Gopay, memang menjadi bintang utama dalam laporan kinerja ini. Pendapatan bersih dari lini bisnis ini meroket 53% secara tahunan (YoY), berhasil menembus angka Rp2 triliun pada kuartal kedua. Peningkatan pendapatan ini bahkan diiringi dengan lonjakan profitabilitas yang jauh lebih tinggi. Tercatat, EBITDA yang disesuaikan dari Fintech mencapai Rp481 miliar, melesat 447% YoY. Ini adalah momen bersejarah, di mana pencapaian EBITDA Fintech untuk pertama kalinya melampaui lini bisnis On-demand Services (ODS).
Meski Fintech bersinar terang, lini bisnis On-demand Services (ODS) atau Gojek juga tidak kalah memberikan kontribusi positif. Pendapatan bersih dari ODS berhasil mencapai Rp3,6 triliun, dengan EBITDA yang disesuaikan menyentuh Rp464 miliar, meningkat 41% dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ODS juga diwarnai dengan perbaikan signifikan pada margin bisnisnya. Segmen pengiriman (GoFood dan GoSend) menunjukkan kenaikan margin menjadi 2,1% dari 1,8% tahun lalu, sementara segmen mobilitas (GoRide dan GoCar) mencatat lonjakan margin lebih impresif menjadi 5,0% dari 3,0% di tahun sebelumnya.
Terkait kebijakan komisi 8% yang mulai diterapkan sejak 1 Juli 2026, Hans Patuwo mengakui bahwa penyesuaian ini memang tidak mudah. Namun, ia memastikan bahwa setelah berjalan sebulan, kondisi perusahaan tetap stabil dan dampaknya dapat dikelola dengan baik. "Meski penyesuaian ini tidak mudah, kami percaya dampaknya dapat kami kelola dengan baik," jelas Hans, menunjukkan optimisme manajemen terhadap keberlanjutan strategi ini.
Memanfaatkan momentum positif ini, manajemen GOTO melakukan penyesuaian target kinerja untuk setahun penuh. Target EBITDA Grup yang disesuaikan tetap di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Namun, target untuk Fintech dinaikkan secara signifikan menjadi Rp1,7-1,8 triliun, mencerminkan keyakinan perusahaan terhadap potensi pertumbuhan sektor ini. Sebaliknya, target ODS sedikit diturunkan menjadi Rp1,4-1,5 triliun, sebagai dampak yang diperkirakan dari implementasi kebijakan komisi 8% tersebut.
Pergeseran fokus dan keberhasilan GOTO dalam mengoptimalkan lini bisnis Fintech menunjukkan adaptasi strategis yang cerdas di tengah dinamika pasar. Ini menjadi sinyal positif bagi investor dan pelaku ekonomi, bahwa inovasi dan efisiensi adalah kunci untuk terus mencetak cuan di era digital.
