Agroplus – Bank DBS Indonesia kembali menunjukkan kepiawaiannya dalam menavigasi kompleksitas pasar keuangan, kali ini dengan fokus pada sektor otomotif yang tengah bergejolak. Di tengah derasnya arus transisi menuju kendaraan listrik (EV), muncul pertanyaan besar: bagaimana nasib perusahaan otomotif yang masih berinvestasi besar pada teknologi mesin pembakaran dalam (ICE)? DBS Indonesia hadir dengan pendekatan yang informatif dan strategis untuk menilai risiko pembiayaan di era perubahan ini, memberikan pandangan yang lebih nuansa daripada sekadar "tinggalkan yang lama, sambut yang baru."
Ello Hanson, Executive Director, Head of Large Corporates & ESG Lead Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, menjelaskan inti dari strategi mereka. Menurut Ello, DBS tidak serta-merta menggeneralisasi. Mereka memiliki pemetaan detail komponen kendaraan, membaginya menjadi tiga kategori: yang eksklusif untuk ICE, eksklusif untuk EV, dan yang paling krusial, komponen yang dapat digunakan pada kedua jenis penggerak tersebut. "Fokus utama kami adalah semua yang akan terus dipakai, baik di mobil ICE maupun EV," terang Ello. Ia mencontohkan, ban mobil, sistem kelistrikan, AC, audio, hingga sistem pengereman adalah elemen-elemen universal yang menjamin keberlanjutan investasi.

Pendekatan DBS menunjukkan bahwa perusahaan yang masih berfokus pada segmen ICE tidak otomatis dianggap tanpa prospek. Meskipun kehati-hatian ekstra diterapkan dalam pembiayaan, Ello menegaskan bahwa pasar ICE masih sangat besar dan diproyeksikan akan bertahan dalam jangka waktu yang cukup lama. "Kita ini dalam konteks konsumsi massal. ICE dan EV akan terus berdampingan untuk waktu yang panjang," ujarnya. Ia menambahkan, pasar ICE ke depan mungkin akan mengalami konsolidasi, di mana hanya pemain-pemain dengan fondasi kuat yang akan mampu bertahan dan beradaptasi.
Menariknya, DBS tidak hanya berperan sebagai penilai risiko yang pasif. Bank ini justru aktif mendorong perusahaan-perusahaan yang masih berinvestasi di ICE untuk mulai beradaptasi dan bertransformasi. Dengan memanfaatkan hasil pemetaan komponen serta strategi "resetter type" yang mereka miliki, DBS membantu perusahaan menentukan arah pembiayaan yang lebih strategis dan berkelanjutan di masa depan. Ini adalah langkah proaktif untuk memastikan industri otomotif tetap resilient di tengah dinamika perubahan, bukan hanya sekadar membatasi pembiayaan.
Dengan strategi yang komprehensif ini, DBS Indonesia membuktikan bahwa transisi energi di sektor otomotif bukanlah akhir bagi teknologi lama, melainkan sebuah fase adaptasi yang menuntut kecermatan dan visi ke depan. Pendekatan ini bukan hanya tentang meminimalkan risiko, tetapi juga membuka peluang baru bagi inovasi dan keberlanjutan, sejalan dengan semangat adaptasi yang selalu digaungkan oleh agroplus.co.id dalam setiap perubahan industri.
