Prajogo Pangestu Kuasai Pelabuhan, Petani Tersenyum?
Agroplus – Dunia bisnis kembali dihebohkan dengan manuver strategis konglomerat Prajogo Pangestu. PT Petrosea Tbk (PTRO), melalui anak perusahaannya, baru saja menuntaskan akuisisi signifikan terhadap PT Sejahtera Terminal Logistik (STL), sebuah langkah yang berpotensi merombak efisiensi rantai pasok nasional, bahkan hingga ke sektor pertanian dan ketahanan pangan.

Transaksi senilai Rp 880 juta ini, yang rampung pada 15 September 2026, melibatkan pembelian seluruh saham STL oleh PT Petrosea Engineering Procurement Construction (PEPC) dan PT Rekakarsa Karya Nusantara (REKAN), dua entitas di bawah payung Petrosea. Informasi ini terungkap dari keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dirilis manajemen Petrosea.
STL sendiri dikenal sebagai pemain kunci dalam aktivitas pelayanan kepelabuhanan laut. Dengan masuknya STL ke dalam ekosistem Petrosea, manajemen berharap dapat memperkuat lini bisnis Jasa Logistik & Pendukung (Logistics & Support Services) perseroan. Ini bukan sekadar ekspansi biasa; ini adalah upaya strategis untuk mengoptimalkan pergerakan barang, yang pada akhirnya akan berdampak pada biaya logistik dan kecepatan distribusi, termasuk untuk komoditas pertanian.
Bagi sektor pertanian, efisiensi logistik pelabuhan adalah tulang punggung. Bayangkan, pupuk impor, alat-alat pertanian, atau bahkan benih unggul yang masuk melalui pelabuhan, akan lebih cepat sampai ke tangan petani dengan biaya yang lebih kompetitif. Sebaliknya, hasil panen seperti kopi, kakao, atau produk olahan pertanian yang akan diekspor, bisa menjangkau pasar global dengan lebih efisien. Akuisisi ini berpotensi memangkas waktu tunggu dan biaya pengiriman, yang secara langsung atau tidak langsung akan dirasakan manfaatnya oleh para pelaku usaha tani, dari hulu hingga hilir.
Secara rinci, PEPC kini menguasai 1.497 saham STL, sementara REKAN memegang 3 saham, menjadikan total 1.500 lembar saham yang setara dengan 100% kepemilikan. Sebelum transaksi ini, struktur kepemilikan STL didominasi oleh Joko M. Slamet dengan 900 saham (60%) dan Zaenal Arifin dengan 600 saham (40%). Dengan nilai nominal saham sebesar Rp 500.000 per lembar, total modal ditempatkan dan disetor STL sebelum transaksi tercatat sebesar Rp 750 juta.
Manajemen Petrosea menegaskan bahwa pengambilalihan seluruh saham STL ini diharapkan membawa dampak positif signifikan terhadap peningkatan kinerja operasional perusahaan. Lebih dari itu, transaksi ini dipandang sebagai pendorong ekspansi usaha melalui penguatan sinergi dan integrasi rantai nilai. Ini adalah langkah maju yang bukan hanya menguntungkan korporasi, tetapi juga berpotensi menciptakan gelombang efisiensi yang dapat menopang ketahanan pangan dan daya saing produk pertanian Indonesia di kancah global, seperti yang kerap disuarakan oleh agroplus.co.id.
