Agroplus – Di tengah riuhnya kabar kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), dan bayang-bayang konflik geopolitik yang memanas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru menunjukkan ketangguhan luar biasa pada perdagangan sesi pertama hari Kamis, 17 September 2026. Sebuah anomali positif yang patut dicermati oleh para pelaku pasar.
Berdasarkan data Refinitiv yang kami himpun, hingga penutupan sesi pertama, IHSG berhasil melaju 0,42%, bertengger di level 6.463,61. Pergerakan indeks sempat menyentuh titik terendah 6.418 dan puncaknya di 6.500, menunjukkan dinamika yang cukup menarik. Total nilai transaksi tercatat fantastis, mencapai Rp7,88 triliun, dengan 16,90 miliar saham berpindah tangan dalam 1,12 juta kali frekuensi transaksi. Ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan gairah pasar yang tak surut.

Kekuatan IHSG ini didorong oleh mayoritas sektor perdagangan yang menunjukkan performa impresif, terutama sektor energi, konsumer, dan finansial. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) menjadi lokomotif utama yang menarik gerbong IHSG ke zona hijau. Padahal, sentimen negatif dari arena global cukup kuat. The Fed baru saja mengerek suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%, sebuah langkah pertama sejak Juli 2023. Kebijakan ini sontak memicu penguatan indeks dolar AS ke level tertinggi sejak 12 Agustus 2026 dan membuat imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun menembus angka 5,004%, rekor tertinggi sejak Juli 2007. Belum lagi, ketegangan di Timur Tengah yang memanas, dengan laporan kelompok Houthi menguasai sejumlah wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb, menambah daftar kekhawatiran investor.
Di balik ketangguhan IHSG, peran investor asing patut mendapat sorotan. Berdasarkan analisis Stockbit Sekuritas, investor mancanegara membukukan aksi beli bersih (net foreign buy) yang cukup signifikan, mencapai Rp77,54 miliar di seluruh pasar sepanjang sesi pertama hari ini. Ini mengindikasikan kepercayaan mereka terhadap prospek pasar domestik. Secara rinci, total nilai transaksi asing pada sesi I mencapai Rp4,07 triliun, dengan pembelian sebesar Rp2,07 triliun dan penjualan Rp2,00 triliun.
Perburuan saham oleh investor asing paling gencar terlihat pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), yang mencatat net buy fantastis sebesar Rp142,67 miliar, sekaligus menegaskan posisinya sebagai penopang utama IHSG hari ini. Tak hanya itu, saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) juga menjadi incaran dengan nilai Rp39,91 miliar, disusul oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar Rp32,58 miliar. Saham lain yang tak luput dari radar investor asing adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) dengan Rp30,80 miliar, PT Erajaya Swasembada Tbk. (ERAA) Rp28,53 miliar, dan menariknya, PT Jhonlin Agro Raya Tbk. (JARR) yang bergerak di sektor agribisnis, juga diborong Rp24,89 miliar. Ini menunjukkan diversifikasi minat asing, bahkan ke sektor yang dekat dengan bidang kami di agroplus.co.id.
Selain nama-nama besar tersebut, investor asing juga aktif mengakumulasi saham PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) senilai Rp21,55 miliar, PT Petrosea Tbk. (PTRO) Rp20,30 miliar, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) Rp19,08 miliar, dan PT Dana Brata Luhur Tbk. (TEBE) Rp11,67 miliar.
Namun, di sisi lain, beberapa saham juga menjadi target aksi jual investor asing. Penjualan terbesar terjadi pada PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) dengan nilai mencapai Rp79,76 miliar. Disusul oleh raksasa telekomunikasi PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar Rp45,71 miliar, dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) Rp30,56 miliar.
Tekanan jual juga terlihat pada saham-saham sektor pertambangan lainnya seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) sebesar Rp23,17 miliar, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) Rp22,23 miliar, PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) Rp18,20 miliar, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) Rp15,90 miliar, PT Timah Tbk. (TINS) Rp15,55 miliar, PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) Rp8,19 miliar, dan PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) Rp7,80 miliar.
Dinamika pasar modal Indonesia pada sesi pertama hari ini jelas menunjukkan ketahanan dan daya tarik tersendiri bagi investor global, terlepas dari gejolak ekonomi dan geopolitik dunia.
(fsd/fsd)
