Agroplus – Visi besar untuk menjadikan Papua sebagai lumbung pangan mandiri kini semakin mengemuka. Presiden terpilih Prabowo Subianto menegaskan bahwa kemandirian pangan adalah fondasi krusial bagi akselerasi pembangunan di Bumi Cenderawasih, sekaligus pilar utama transformasi Indonesia menuju negara yang maju dan sejahtera. Sejalan dengan arahan tersebut, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pun telah menyiapkan strategi ambisius untuk mewujudkan target ini.
Arahan strategis ini disampaikan Presiden Prabowo dalam pertemuannya dengan para kepala daerah se-Papua, di mana ia menggarisbawahi pentingnya pemerataan pembangunan tanpa meninggalkan satu wilayah pun. Baginya, kemampuan suatu daerah untuk menjamin ketersediaan pangan bagi penduduknya merupakan landasan peradaban, serta prasyarat mutlak untuk memberantas kemiskinan, ketertinggalan, dan kelaparan. "Pembangunan di Papua harus dipercepat di semua lini, namun pangan adalah dasar dari segala kehidupan bangsa," tegas Presiden. Ia menekankan perlunya swasembada pangan tidak hanya di tingkat nasional, melainkan hingga provinsi, bahkan kabupaten. Mengingat tantangan geografis dan tingginya biaya logistik, kemampuan setiap daerah untuk mandiri pangan menjadi vital. Oleh karena itu, Papua didorong untuk mengoptimalkan potensi pangan lokalnya seperti padi, jagung, sagu, dan singkong, dengan dukungan penuh dari pemerintah pusat.

Menyambut visi Presiden, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan komitmen kuat pemerintah pusat untuk mewujudkan swasembada pangan di Papua dalam kurun waktu maksimal tiga tahun, bahkan dengan target ambisius dua tahun. Amran membeberkan data krusial: kebutuhan beras tahunan Papua mencapai sekitar 660 ribu ton, sementara produksi lokal baru menyentuh angka 120 ribu ton. Ini menyisakan defisit signifikan sekitar 500 ribu ton yang harus segera diatasi.
"Untuk menutup defisit sekitar setengah juta ton beras tersebut, kita memerlukan pencetakan sawah baru seluas kurang lebih 100 ribu hektare," jelas Amran. Program masif ini akan didistribusikan di wilayah Papua Selatan, Papua, dan Papua Barat, bahkan enam provinsi di Tanah Papua telah mengajukan permohonan untuk program cetak sawah ini. Amran menegaskan bahwa proyek pencetakan 100 ribu hektare sawah ini akan sepenuhnya didukung oleh intervensi langsung dari pemerintah pusat. Dengan sinergi antar kementerian dan dukungan penuh pemerintah daerah, ia sangat optimistis target ini dapat tercapai dalam dua hingga tiga tahun ke depan, membuka jalan bagi swasembada pangan berkelanjutan di Papua.
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan lokal, swasembada pangan Papua adalah bagian integral dari visi besar pemerintah untuk mencapai kemandirian pangan nasional, memutus ketergantungan antarwilayah. Amran menyoroti kemajuan di pulau-pulau lain; Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatera kini telah berada di jalur swasembada, sementara Jawa dianggap sudah mandiri dalam memenuhi kebutuhan pangannya. "Mimpi kita adalah seluruh pulau di Indonesia mencapai swasembada pangan," ujarnya. "Dengan demikian, kita tidak perlu lagi bergantung pada pengangkutan pangan antar pulau, yang pada akhirnya akan menjadi solusi permanen untuk menekan laju inflasi."
Tak hanya fokus pada padi, Amran juga menekankan pentingnya penguatan pangan lokal Papua melalui optimalisasi komoditas sagu. Pemerintah berencana untuk menuntaskan dan mengaktifkan kembali pabrik sagu di Sorong yang selama ini belum beroperasi secara optimal. Langkah ini merupakan bagian dari strategi diversifikasi pangan yang lebih luas, sekaligus upaya untuk memperkuat ekonomi lokal masyarakat Papua.
Pertemuan penting ini dihadiri oleh jajaran tinggi negara, termasuk Wakil Presiden Republik Indonesia, para menteri, pimpinan lembaga, enam gubernur se-Papua, puluhan bupati dan wali kota, serta anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua. Kehadiran para pemangku kepentingan ini menegaskan komitmen bulat pemerintah untuk memastikan Papua dapat berdiri di atas kakinya sendiri, dengan kemandirian pangan sebagai fondasi utama bagi pembangunan berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan seluruh masyarakatnya.
Hamparan lahan sawah baru yang akan dicetak di Papua. (Foto: Kementan/agroplus.co.id)