Agroplus – Kabar gembira datang dari sektor perbankan, seolah musim panen tiba bagi para investor PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI). Bank pelat merah ini baru saja menyetujui pembagian dividen tunai sebesar Rp13,03 triliun dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025 yang digelar pada Senin, 9 Maret 2026. Sebuah keputusan yang tentu saja menjadi angin segar bagi para pemilik saham, menjanjikan imbal hasil yang manis dari investasi mereka.
Angka fantastis ini bukan tanpa alasan, mengingat dividen tersebut merupakan 65% dari laba bersih konsolidasian BNI yang mencapai Rp20,04 triliun. Dengan perhitungan yang cermat, setiap lembar saham BBNI akan ‘memanen’ Rp349,41, sebuah imbal hasil yang tentu dinanti-nanti para pemilik modal. Pembayaran dividen ini sendiri dijadwalkan akan dilakukan pada bulan depan, menambah likuiditas di kantong investor.

Agar tidak melewatkan ‘musim panen’ dividen ini, BNI telah merilis jadwal penting melalui keterbukeran informasi Bursa Efek Indonesia (BEI). Para investor, layaknya petani yang cermat menghitung masa tanam dan panen, wajib mencatat tanggal-tanggal krusial berikut:
- Cum Date (Pasar Reguler & Negosiasi): 17 Maret 2026. Ini adalah batas akhir bagi investor untuk memiliki saham BBNI agar berhak atas dividen. Jadi, pastikan Anda sudah ‘menanam’ saham sebelum tanggal ini.
- Cum Date (Pasar Tunai): 26 Maret 2026.
- Ex Date (Pasar Reguler & Negosiasi): 25 Maret 2026. Setelah tanggal ini, saham diperdagangkan tanpa hak dividen.
- Ex Date (Pasar Tunai): 27 Maret 2026.
- Recording Date: 26 Maret 2026. Tanggal pencatatan pemegang saham yang berhak menerima dividen.
- Pembayaran Dividen Tunai: 7 April 2026. Saatnya ‘memetik hasil’ investasi Anda.
Okki Rushartomo, Corporate Secretary BNI, menjelaskan bahwa keputusan tebaran dividen ini bukan sekadar bagi-bagi keuntungan, melainkan cerminan komitmen kuat Perseroan dalam memberikan nilai optimal kepada pemegang saham, sekaligus menjaga ‘kesuburan’ fundamental perusahaan melalui penguatan struktur permodalan. "Keputusan strategis yang disepakati dalam RUPST ini, ibarat pemilihan bibit unggul dan pemupukan yang tepat, adalah bagian dari upaya menjaga kinerja berkelanjutan serta memperkuat fondasi permodalan Perseroan untuk masa tanam berikutnya," tutur Okki dalam keterangan resminya.
Selain ‘panen’ dividen, RUPST juga menyepakati alokasi 35% laba bersih, atau sekitar Rp7,01 triliun, sebagai saldo laba ditahan. Dana ini, layaknya cadangan air untuk musim kemarau atau modal untuk ekspansi lahan baru, akan digunakan untuk mendukung ekspansi bisnis serta memperkuat kapasitas permodalan BNI di tengah ‘iklim’ industri perbankan yang dinamis. Ini menunjukkan visi jangka panjang BNI untuk terus tumbuh dan memberikan kontribusi nyata, termasuk bagi sektor-sektor vital seperti pertanian yang seringkali membutuhkan dukungan permodalan kuat dari perbankan, demikian laporan dari agroplus.co.id.
