Agroplus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya di tengah ancaman bencana hidrometeorologi. Ia memastikan stok beras untuk tiga provinsi di Sumatera, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, akan digandakan hingga tiga kali lipat dari kebutuhan normal. Pernyataan ini disampaikan Amran saat meninjau persiapan keberangkatan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Surabaya 591 di Dermaga Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil) Tanjung Priok, Jakarta, pada Jumat (12/12), sehari setelah melepas Bantuan Bencana Pulau Sumatera tahap ke-2 di Kantor Pusat Kementerian Pertanian.

Amran menegaskan, langkah antisipatif ini krusial untuk menghadapi potensi lonjakan kebutuhan pangan yang bisa terjadi kapan saja akibat dampak bencana. “Yang terpenting adalah ketersediaan beras. Kami siapkan cadangan hingga tiga kali lipat dari kebutuhan normal, sebagai langkah berjaga-jaga jika sewaktu-waktu terjadi lonjakan permintaan,” jelasnya, menyoroti pentingnya mitigasi pangan.
Cadangan Beras yang Melimpah
Saat ini, data menunjukkan bahwa stok beras di Aceh tercatat sebanyak 70.000 ton, meskipun telah dikurangi pengiriman 10.000 ton. Sementara itu, Sumatera Utara memiliki cadangan 29.000 ton dengan tambahan pasokan sekitar 30.000 ton yang sedang dalam perjalanan. Untuk Sumatera Barat, stok beras berada di angka 7.000 ton.
Secara nasional, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat per 11 Desember, total stok Beras Bulog masih sangat tinggi, mencapai 3,7 juta ton. Angka ini merupakan yang terbesar sepanjang sejarah. Khusus di tiga provinsi terdampak, total stok beras Bulog mencapai 154,4 ribu ton. Rinciannya, Aceh masih memiliki 97,2 ribu ton, Sumatera Utara 44,5 ribu ton, dan Sumatera Barat 12,6 ribu ton.
Penggunaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog di ketiga provinsi tersebut sedang diintensifkan. Ini mencakup program bantuan pangan reguler berupa penyaluran beras dan minyak goreng, serta bantuan non-reguler berupa beras khusus untuk masyarakat yang terdampak bencana alam.
Optimisme Swasembada dan Prediksi Produksi
Amran menyuarakan optimisme besar terkait ketahanan pangan nasional. “Alhamdulillah, beras kita lebih dari cukup sampai hari ini, 3,7 juta ton, dan itu terbesar sepanjang sejarah. Insyaallah, dalam sekitar 18 hari ke depan, atau kurang lebih tiga minggu, kita bisa umumkan Indonesia swasembada beras tanpa impor,” ujarnya penuh harap.
Data dari Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS) amatan Oktober 2025 menunjukkan bahwa produksi beras nasional dari Januari hingga Desember dapat mencapai 34,79 juta ton. Capaian ini jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia selama setahun yang berkisar 31,2 juta ton, menghasilkan surplus signifikan sebesar 3,5 juta ton. Bapanas memproyeksikan stok beras hingga akhir tahun 2025 secara nasional dapat mencapai 12,5 juta ton, yang diperoleh dari carry over stock 2024 sebesar 8,4 juta ton ditambah surplus produksi dan penambah lainnya. Dengan demikian, stok beras Indonesia diperkirakan cukup untuk hampir lima bulan di tahun 2026.
Prediksi positif juga datang dari Food and Agriculture Organization (FAO). Dalam Food Outlook edisi November 2025, FAO memperkirakan produksi beras Indonesia untuk periode 2025-2026 dapat mencapai 36 juta ton. Angka ini menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di kawasan Asia Tenggara, mengungguli Vietnam (28,2 juta ton), Thailand (22,2 juta ton), Myanmar (16,7 juta ton), Filipina (12,5 juta ton), bahkan Malaysia (1,5 juta ton).
Pengawalan Ketat Bantuan Pangan
Mentan Amran juga menegaskan bahwa seluruh program bantuan melalui Kementan/Bapanas Peduli akan dikawal dengan sangat ketat. Hal ini demi menjaga kepercayaan publik dan memastikan bantuan tersampaikan secara merata hingga ke titik terakhir. “Kami sangat yakin bahwa dari Kementerian Pertanian dan Bapanas mengawal bantuan. Kenapa? Karena ada juga bantuan dari pribadi pegawai yang mencapai Rp 75 miliar, dan pasti kita kawal bersama. Kami yang bertanggung jawab penuh,” tegasnya.
Dengan keberangkatan KRI Surabaya 591, total realisasi penyaluran bantuan Kementan dan Bapanas Peduli telah mencapai Rp 44 miliar. Ekspedisi jalur laut ini akan menyasar Sumatera Utara terlebih dahulu, kemudian berlanjut ke Aceh, dan terakhir bersandar di Sumatera Barat.
“Program bantuan pemerintah yang sebesar Rp 1,2 triliun itu juga kita kawal sampai ke titik bagi. Tanggung jawab penuh ada di Direktur Utama Bulog, Letnan Jenderal Rizal. Jadi tidak usah ragu, kita kawal,” pungkas Amran, menutup pernyataannya dengan pesan solidaritas. “Bencana ini, cobaan ini adalah cobaan kita semua. Cobaan saudara kita di Aceh, Sumatera Barat, dan Sumatera Utara, itu adalah cobaan kita semua. Kita diuji bagaimana peduli pada sesama, bagaimana peduli pada saudara-saudara kita di sana.”
Reporter: Supianto