Agroplus – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menunjukkan respons cepat dan empati yang tinggi terhadap kasus salah data bantuan pangan yang menimpa keluarga Wa Muna dan Pak Jafar di Baubau, Sulawesi Tenggara. Setelah kisah Wa Muna viral di media sosial karena harus mengembalikan bantuan yang sempat diterimanya, Amran tak tinggal diam. Ia langsung memerintahkan jajarannya untuk menelusuri masalah dan menyalurkan santunan tunai sebesar Rp20 juta, serta bantuan pangan yang melimpah.

Kisah Wa Muna, seorang buruh cuci dari Kelurahan Baadia, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, sempat menyita perhatian publik. Ia terpaksa mengembalikan bantuan beras dan minyak goreng yang sudah diterimanya karena adanya kekeliruan data penerima. Situasi ini semakin memilukan mengingat Wa Muna telah menjadi tulang punggung keluarga selama delapan tahun terakhir, semenjak suaminya, Pak Jafar, menderita stroke. Curhatannya di media sosial pun menjadi sorotan, menyoroti kerentanan masyarakat terhadap kesalahan administrasi.
Mendengar kabar tersebut, Mentan Amran segera bertindak. Ia memerintahkan jajaran Perum Bulog untuk menelusuri akar masalah di lapangan dan menyelesaikannya secara tuntas. Tujuannya jelas, agar keluarga Wa Muna tidak dirugikan akibat kesalahan administrasi yang tidak mereka buat. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan bantuan tepat sasaran dan tidak menimbulkan masalah baru bagi penerima.
Tidak hanya penyelesaian masalah administratif, sebagai bentuk kepedulian langsung, Amran juga memberikan santunan tunai sebesar Rp20 juta. Bantuan pangan juga turut disalurkan, meliputi 250 kilogram beras, 12 liter minyak goreng, dan 10 kilogram gula pasir. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban hidup keluarga Pak Jafar dan Wa Muna, serta menjadi penawar atas kekecewaan yang sempat mereka alami.
Penyerahan bantuan dilakukan langsung oleh Pimpinan Cabang Bulog Baubau, Dion, kepada keluarga Pak Jafar. Dalam kesempatan itu, Dion menyampaikan permohonan maaf yang tulus atas kekeliruan yang terjadi. “Kami menyampaikan amanah dari Menteri Pertanian, Bapak Amran, untuk menyerahkan bahan pangan ini. Mudah-mudahan Pak Jafar dan keluarga berkenan menerima. Sekali lagi kami mohon maaf atas kesalahan kemarin. Semoga ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami,” ujar Dion belum lama ini. Ia juga menegaskan harapan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang, menunjukkan komitmen perbaikan sistem.
Rasa haru dan syukur terpancar dari keluarga penerima. Pak Jafar, dengan suara bergetar, mengucapkan terima kasih yang mendalam atas perhatian yang diberikan Amran kepada keluarganya. “Saya Jafar dan keluarga mengucapkan terima kasih atas perhatiannya. Salam hormat dan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian,” ungkapnya.
Wa Muna sendiri memilih untuk mengambil hikmah dari peristiwa ini. Dengan ketabahan, ia menyampaikan rasa syukurnya. “Terima kasih banyak, Pak. Saya ambil hikmahnya. Terima kasih kepada Bapak Menteri yang sudah memberikan beras yang begitu banyak,” tuturnya, menunjukkan bahwa di balik kesulitan, selalu ada pelajaran dan kebaikan yang bisa diambil. Kisah ini menjadi pengingat pentingnya respons cepat dan empati dalam pelayanan publik.