Agroplus – PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB), atau yang lebih dikenal sebagai BNC, tengah memupuk harapan besar bagi para pemegang sahamnya. Bank digital ini memproyeksikan diri untuk sepenuhnya bebas dari saldo defisit dalam kurun waktu dua tahun ke depan, sebuah langkah krusial sebelum akhirnya membuka ‘keran’ dividen yang dinanti-nantikan oleh para investor.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, BNC masih mencatat saldo defisit yang belum dialokasikan sebesar Rp 1,43 triliun. Angka ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan sebelum bank bisa kembali memanjakan investornya, mengingat pembagian dividen terakhir dilakukan pada tahun 2020.

Namun, bukan berarti jalan BNC terjal tanpa harapan. Hingga paruh pertama tahun 2026, BNC berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp 294,85 miliar, melonjak 6,81% secara tahunan (year on year/yoy). Ini adalah indikator kuat bahwa ‘tanaman’ bisnis BNC mulai berbuah manis dan menunjukkan potensi pertumbuhan yang berkelanjutan.
Direktur Utama BNC, Eri Budiono, dalam sebuah pertemuan media di Jakarta baru-baru ini, optimistis bahwa tren kinerja positif ini dapat terus dipertahankan. "Jika kita bisa menjaga laju pertumbuhan saat ini, kami perkirakan defisit itu bisa tuntas pada tahun 2027," ungkap Eri, memberikan sinyal positif tentang percepatan target dari perkiraan sebelumnya.
Eri menjelaskan, selama saldo defisit masih ada, BNC secara regulasi tidak dapat menyalurkan dividen. Oleh karena itu, prioritas utama adalah menuntaskan defisit ini secara organik, melalui kinerja bisnis yang solid. "Setelah defisit ini tertutup secara alami, barulah kami akan mempertimbangkan dividen, tentu setelah berdiskusi dengan pemegang saham pengendali dan dewan komisaris kami," tambahnya, menegaskan komitmen jangka panjang terhadap nilai bagi pemegang saham.
Kesehatan finansial BNC juga tercermin dari total aset yang mencapai Rp 17,45 triliun pada Semester I-2026. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga kokoh di angka Rp 12,30 triliun, dengan dana tabungan yang tumbuh 2,10% yoy menjadi Rp 3,39 triliun. Angka-angka ini menunjukkan kepercayaan publik yang terus tumbuh terhadap BNC sebagai lembaga keuangan digital.
Dari sisi pendapatan, Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) BNC mencapai Rp 1,11 triliun, sementara pendapatan berbasis komisi (Fee Based Income) juga menunjukkan pertumbuhan signifikan 6,77% yoy, mencapai Rp 59,66 miliar. Ini menandakan diversifikasi sumber pendapatan yang sehat, layaknya ekosistem pertanian yang tidak hanya bergantung pada satu jenis tanaman untuk panen.
Dengan dukungan dari Akulaku Silvrr Indonesia sebagai pemilik, BNC optimis dapat segera menuntaskan ‘PR’ defisitnya dan mewujudkan janji dividen bagi para investor. Perjalanan menuju kemandirian finansial dan profitabilitas berkelanjutan tampaknya semakin cerah di horizon bisnis perbankan digital.
