agroplus.co.id – Kabar mengejutkan datang dari lantai bursa terkait pergerakan kepemilikan saham di sektor pertambangan. Salah satu petinggi di PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), Agoes Projosasmito, dilaporkan melakukan aksi korporasi dengan membeli saham emiten tambang tersebut dalam jumlah yang cukup signifikan. Langkah ini menarik perhatian para pelaku pasar karena dilakukan oleh orang dalam perusahaan yang memiliki posisi strategis.
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), Agoes Projosasmito melakukan pembelian saham BRMS dalam dua tahap transaksi yang berbeda pada tanggal 22 Oktober 2026. Aksi beli ini menunjukkan adanya kepercayaan diri yang tinggi dari jajaran manajemen terhadap prospek perusahaan di masa mendatang.

Jika menilik rincian transaksinya, pembelian pertama dilakukan sebanyak 3,3 juta lembar saham dengan harga Rp448 per saham. Nilai dari transaksi awal ini mencapai angka Rp1,48 miliar. Tidak berhenti di situ, Agoes melanjutkan aksi borongnya pada transaksi kedua dengan menambah 2,2 juta lembar saham pada harga Rp446 per saham, atau setara dengan nilai Rp981,2 juta.
Secara akumulatif, total dana yang digelontorkan oleh Wakil Presiden Direktur tersebut untuk mengamankan saham BRMS mencapai sekitar Rp2,46 miliar. Melansir laporan dari agroplus.co.id, transaksi ini dilakukan secara langsung sebagai bentuk kepemilikan pribadi, bukan melalui skema perjanjian beli kembali atau repurchase agreement. Tujuan utama dari pembelian masif ini pun ditegaskan murni untuk kepentingan investasi jangka panjang.
Sebelum melakukan aksi beli yang cukup agresif ini, Agoes Projosasmito tercatat belum memiliki kepemilikan saham sama sekali di BRMS, atau berada di angka 0,00% hak suara. Namun, pasca transaksi tersebut, profil kepemilikannya berubah drastis. Kini, ia tercatat mengantongi 5,5 juta lembar saham yang setara dengan 0,0039% hak suara dalam perseroan.
Meskipun jumlah kepemilikannya secara persentase masih tergolong kecil dalam struktur modal perusahaan, aksi beli oleh seorang petinggi perusahaan sering kali dianggap sebagai sinyal positif oleh investor ritel. Hal ini dikarenakan manajemen dianggap memahami betul kondisi fundamental serta potensi pertumbuhan perusahaan di tengah fluktuasi harga komoditas global.
Dalam laporan resmi tersebut, Agoes Projosasmito dinyatakan sebagai Warga Negara Indonesia (WNI) dan menegaskan bahwa dirinya bukan merupakan bagian dari pemegang saham pengendali perseroan. Meski demikian, langkah investasi ini tetap menjadi sorotan tajam di pasar modal, mengingat keterlibatan langsung manajemen dalam memperkuat posisi kepemilikan mereka di perusahaan tempat mereka mengabdi.
