Petani Makin Untung! Akademisi Ungkap Jurus Jitu Mentan Amran
Agroplus – Sektor pertanian Indonesia sedang mengalami transformasi fundamental. Kebijakan yang digulirkan Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman, bersama Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudayono, dinilai para akademisi telah membawa angin segar berupa kepastian usaha bagi para petani. Ini bukan sekadar program musiman, melainkan fondasi kokoh bagi ekosistem pangan yang berdaya saing dan berkelanjutan.

Muhammad Makky, seorang akademisi dari Universitas Andalas, menyoroti perubahan mendasar dalam tata kelola sektor pangan nasional. Menurutnya, arah kebijakan Kementan kini lebih berorientasi pada strategi bisnis jangka panjang, bukan sekadar proyek pemerintah yang bersifat ad-hoc. "Ini strategi bisnis yang dirancang oleh Pak Menteri. Program-programnya sudah mempertimbangkan skala bisnis, bukan lagi sekadar proyek pemerintah," ujar Makky dalam sebuah forum diskusi, seperti dikutip agroplus.co.id pada Jumat (26/12).
Transformasi ini, lanjut Makky, tercermin dari fokus pemerintah dalam menciptakan kepastian usaha di sektor pertanian. Kepastian ini menjadi elemen krusial untuk menjaga stabilitas produksi, mendongkrak produktivitas, serta memperkuat posisi tawar petani dalam rantai pasok pangan nasional.
Penguatan ekosistem pangan ini diwujudkan melalui serangkaian intervensi terintegrasi, mulai dari jaminan ketersediaan sarana produksi esensial seperti pupuk dan benih berkualitas, penyediaan alat mesin pertanian (alsintan) modern, hingga perbaikan infrastruktur pertanian melalui program optimasi dan rehabilitasi lahan. "Ini sangat penting karena produktivitas kita dapat meningkat signifikan dengan jaminan suplai air dan sistem drainase yang baik, bahkan saat menghadapi tantangan musim kering atau curah hujan ekstrem," jelas Makky.
Makky menambahkan, perbaikan tata kelola juga terlihat dari upaya Kementan menyederhanakan layanan bagi petani. Akses yang lebih mudah terhadap pupuk bersubsidi, benih unggul, dan alsintan, membuka peluang besar bagi peningkatan produksi sekaligus mendorong partisipasi lebih luas dari masyarakat dalam sektor pertanian. "Dengan proses yang lebih sederhana, fleksibel, dan rantai birokrasi yang lebih pendek, masyarakat yang sebelumnya kesulitan mengakses pupuk subsidi kini bisa lebih mudah mendapatkannya. Begitu pula dengan bantuan alsintan atau kebutuhan benih," terangnya.
Lebih jauh, kehadiran pemerintah dalam mengawal distribusi dan menjaga stabilitas harga pangan merupakan bagian integral dari upaya melindungi produsen dan konsumen secara bersamaan. Dengan pengelolaan stok pangan dan pengawasan pasar yang kuat, fluktuasi harga dapat ditekan, sehingga ketahanan pangan nasional semakin kokoh. "Di sini bukan hanya memberikan kepastian jaminan keuntungan dan kemudahan memperoleh aset, tetapi juga adanya intervensi langsung yang menyebabkan masyarakat merasa dikawal dan diperhatikan," tegas Makky.
Faktor kunci lain yang ditekankan Makky adalah pemberian insentif kepada para produsen, yaitu petani, dalam bentuk penjaminan harga hasil panen. Kebijakan ini memastikan petani mendapatkan kepastian keuntungan yang layak di akhir masa produksi. "Insentif diberikan dalam bentuk penjaminan harga. Ini adalah salah satu kunci utama, karena dengan harga yang terjamin, ada kepastian keuntungan yang akan diperoleh di akhir produksi," ucapnya.
Menurut Makky, pendekatan ekosistem ini menjanjikan dampak jangka panjang yang signifikan. Selain mendorong peningkatan produksi, kebijakan ini juga membangun kembali kepercayaan pelaku usaha tani dan membuka ruang bagi regenerasi petani muda. Ia menegaskan, transformasi kebijakan pertanian yang sedang berjalan merupakan langkah strategis dalam menyiapkan sektor pangan nasional yang lebih adaptif, mandiri, dan mampu menjawab tantangan masa depan.
Patut diketahui, sektor pertanian Indonesia terus menunjukkan kemajuan pesat. Berbagai kebijakan dan program strategis yang digulirkan pemerintah bertujuan untuk meningkatkan produktivitas, menyejahterakan petani, dan mewujudkan swasembada pangan yang berkelanjutan demi masa depan pangan bangsa.