Gawat! Harga Minyak Terbang, Konflik Hormuz Memicu Alarm!
Agroplus – Dunia kembali menahan napas saat harga minyak mentah global melesat tajam, melonjak lebih dari 10% hanya dalam dua hari perdagangan. Kenaikan drastis ini, yang membawa minyak Brent ke US$84,19 per barel dan WTI ke US$79,35 per barel pada Selasa pagi (14/7/2026), dipicu oleh memanasnya ketegangan geopolitik di Selat Hormuz, jalur vital distribusi energi dunia.

Lonjakan signifikan ini, yang membuat harga minyak mencapai level tertinggi dalam sekitar satu bulan, tidak lepas dari kembali terbangunnya "premi risiko" di pasar. Konflik antara Amerika Serikat dan Iran di kawasan Selat Hormuz, yang selama ini menjadi urat nadi pengiriman minyak global, kini mencapai titik didih baru yang mengancam stabilitas pasokan.
Washington, di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, secara tegas mengaktifkan kembali blokade terhadap pelayaran Iran, bahkan meminta negara-negara yang bergantung pada keamanan Selat Hormuz untuk turut menanggung biaya pengamanan. Respons Teheran tak kalah agresif. Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab melaporkan dua kapal tanker mereka dihantam rudal jelajah Iran di perairan Oman, mengakibatkan satu awak berkebangsaan India tewas dan delapan lainnya luka-luka.
Ketegangan tidak hanya berkecamuk di laut. Komando Pusat AS mengonfirmasi telah melancarkan serangan udara ke Iran selama tiga malam berturut-turut. Sementara itu, kantor berita semi-resmi YJC melaporkan setidaknya tujuh ledakan mengguncang kota pelabuhan Bandar Abbas dan dua ledakan lainnya terjadi di Pulau Kish, mengindikasikan eskalasi konflik yang meluas.
Analis Kepala Pasar KCM Trade, Tim Waterer, menyoroti bahwa eskalasi terbaru ini secara signifikan telah menambah premi risiko di pasar energi. "Blokade AS terhadap Iran dan respons militer Teheran membuat prospek pasokan minyak menjadi jauh lebih sulit diprediksi, meskipun Selat Hormuz belum ditutup sepenuhnya," jelas Waterer, menggambarkan situasi yang penuh ketidakpastian.
Ancaman geopolitik semakin melebar dengan peluncuran rudal oleh kelompok Houthi di Yaman ke arah Arab Saudi. Serangan ini merupakan balasan atas tuduhan Houthi bahwa Riyadh telah membombardir bandara yang mereka kuasai.
Manajer Portofolio Gabelli Funds, Simon Wong, memperingatkan bahwa jika serangan Houthi meluas hingga mengganggu distribusi produk minyak Arab Saudi melalui Laut Merah, maka ketidakpastian terhadap arus pasokan minyak dari Timur Tengah akan meningkat tajam, berpotensi menciptakan krisis yang lebih dalam.
Di luar riak geopolitik, pasar juga mulai mengantisipasi pengetatan pasokan di Amerika Serikat. Survei awal Reuters memproyeksikan stok minyak mentah AS akan menurun pada pekan lalu, meskipun persediaan bensin dan produk distilat diperkirakan meningkat. Data resmi dari Energy Information Administration (EIA) yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan akan menjadi sorotan utama pelaku pasar untuk mendapatkan gambaran terkini mengenai keseimbangan pasokan dan permintaan di ekonomi terbesar dunia. Situasi ini, baik dari sisi geopolitik maupun fundamental pasar, terus menjadi perhatian serius bagi stabilitas ekonomi global.
