agroplus.co.id – Upaya pemerintah Indonesia untuk melepaskan ketergantungan dari dominasi dolar Amerika Serikat (AS) dalam perdagangan internasional menunjukkan tren yang sangat positif. Melalui skema Local Currency Transaction (LCT) atau transaksi menggunakan mata uang lokal, nilai perdagangan dan investasi Indonesia diproyeksikan akan melonjak tajam dalam beberapa tahun ke depan.
Bank Indonesia (BI) memprediksi bahwa nilai transaksi menggunakan mata uang lokal ini akan menembus angka fantastis sebesar US$55 miliar pada akhir tahun 2026 mendatang. Angka tersebut mencerminkan pertumbuhan yang sangat signifikan, mengingat pada tahun 2025 realisasi transaksinya baru menyentuh angka sekitar US$25 miliar. Dengan kata lain, nilai transaksi ini diproyeksikan tumbuh lebih dari dua kali lipat.

Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa lonjakan transaksi ini didorong oleh kerja sama strategis dengan negara-negara mitra dagang utama. Salah satu kontributor terbesar dalam pertumbuhan LCT ini adalah China. Hubungan perdagangan yang kuat antara Indonesia dan China menjadi motor penggerak utama dalam penggunaan mata uang lokal untuk aktivitas ekspor, impor, maupun investasi.
Destry menjelaskan bahwa kebijakan diversifikasi mata uang ini bukan tanpa alasan. Langkah ini merupakan strategi krusial untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dengan mengurangi ketergantungan pada dolar AS, Indonesia dapat menciptakan mekanisme pertahanan terhadap volatilitas pasar global yang sering kali tidak menentu.
"Dengan adanya diversifikasi penggunaan mata uang untuk transaksi ekspor, impor, hingga investasi, kita tentu dapat mengurangi penggunaan dolar AS. Hal ini secara langsung akan membantu menjaga nilai tukar rupiah agar tetap seimbang dan stabil di tengah dinamika ekonomi dunia," ujar Destry dalam sebuah forum di Jakarta Selatan.
Saat ini, Indonesia tidak sendirian dalam gerakan ini. Bank Indonesia telah menjalin kerja sama LCT dengan tujuh negara mitra, yakni Malaysia, Thailand, Jepang, China, Korea Selatan, Uni Emirat Arab (UEA), dan Singapura. Namun, upaya ekspansi kerja sama ini tidak berhenti di situ.
Menariknya, minat negara-negara lain untuk bergabung dalam skema LCT semakin meningkat. Destry menyebutkan bahwa Singapura telah menyatakan ketertarikannya untuk memperluas kerja sama, sementara India menunjukkan minat besar tidak hanya pada LCT, tetapi juga pada integrasi sistem pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) lintas negara.
Fenomena ini menunjukkan bahwa skema LCT semakin diminati oleh banyak bank sentral di dunia. Banyak negara yang mulai menghubungi Bank Indonesia untuk menjajaki peluang kolaborasi serupa. Langkah proaktif ini diharapkan dapat memperkuat posisi ekonomi Indonesia di kancah internasional serta memberikan perlindungan yang lebih kuat bagi nilai tukar Rupiah dari guncangan ekonomi global yang kerap dipicu oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.
