Agroplus – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah memancangkan target ambisius bagi perekonomian Indonesia, menargetkan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai lebih dari 6% pada tahun 2027, sebagai pijakan kuat menuju angka 8% di tahun 2029. Sebuah visi yang menjanjikan, terutama bagi sektor-sektor strategis seperti pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan di banyak wilayah.
Dalam pidatonya di Sidang Paripurna pada Selasa (9/6/2026), Purbaya menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2027 ditargetkan berada di kisaran 5,8% hingga 6,5%. Angka ini, menurutnya, akan didukung oleh implementasi efektif program-program prioritas yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa Merah Putih (KDMP), dan Sekolah Rakyat (SR) menjadi kunci utama dalam strategi ini. Khususnya KDMP, program ini berpotensi besar menjadi angin segar bagi petani dan pelaku usaha di pedesaan. Dengan penguatan koperasi, diharapkan rantai pasok pertanian dapat lebih efisien, petani mendapatkan akses permodalan dan pasar yang lebih baik, serta tercipta nilai tambah bagi produk-produk lokal. Efek berganda (multiplier effect) dari program-program ini diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi secara luas, termasuk di sektor pertanian dan pedesaan yang menjadi basis mata pencarian jutaan keluarga.
Selain target pertumbuhan, Purbaya juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas inflasi nasional. Pada tahun 2027, inflasi ditargetkan berada di kisaran 1,5% hingga 3,5%. Angka ini krusial untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga komoditas, terutama pangan dan energi. Bagi petani, inflasi yang terkendali berarti kepastian harga jual produk mereka, sementara bagi konsumen, daya beli terhadap kebutuhan pokok tetap terjaga. Pemerintah juga akan terus bersinergi dengan Bank Indonesia (BI) untuk mengantisipasi risiko inflasi impor, memastikan pasokan pangan domestik yang kuat menjadi benteng pertahanan ekonomi.
Dalam konteks makroekonomi lainnya, nilai tukar rupiah diperkirakan akan menguat pada tahun 2027, dengan target di kisaran Rp16.800-Rp17.500 per Dolar AS. Stabilitas nilai tukar rupiah ini penting, misalnya, untuk menekan biaya impor pupuk atau alat pertanian yang seringkali menjadi beban bagi petani. Suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun akan dijaga di level 6,5%-7,3%, dan harga minyak mentah Indonesia (ICP) ditargetkan mencapai US$70 hingga US$95 per barel.
Purbaya memaparkan strategi pemerintah untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8% di tahun 2029. Strategi ini meliputi harmonisasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan yang saling menguatkan. Selain itu, pemerintah akan mengakselerasi investasi bernilai tambah tinggi yang berorientasi ekspor. Ini membuka peluang besar bagi sektor agribisnis untuk mengembangkan produk olahan berkualitas ekspor, dari komoditas perkebunan hingga hasil perikanan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani dan devisa negara. Peningkatan partisipasi investor global juga akan didorong untuk memanfaatkan aset negara secara optimal.
"Koordinasi antara kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat untuk memastikan kebijakan berjalan selaras tanpa menimbulkan efek crowding out, sehingga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan dapat dijaga untuk menopang pertumbuhan ekonomi," terang Purbaya, menegaskan komitmen pemerintah dalam menciptakan iklim investasi yang kondusif.
Purbaya optimis bahwa perekonomian Indonesia akan mampu pulih dan tumbuh lebih cepat, menjadi fondasi akselerasi peningkatan kesejahteraan rakyat. "Kami optimis perekonomian Indonesia akan mampu berputar lebih cepat dan tumbuh lebih tinggi sebagai pondasi akselerasi peningkatan kesejahteraan rakyat. Untuk itu, kebijakan fiskal tahun 2027 diarahkan untuk mendorong perekonomian tumbuh lebih tinggi, sejahtera lebih cepat," pungkasnya.
Berikut adalah target asumsi dasar ekonomi makro Indonesia untuk tahun 2027, yang menjadi panduan bagi seluruh sektor, termasuk pertanian:
- Pertumbuhan Ekonomi RI: 5,8% – 6,5%
- Inflasi Nasional: 1,5% – 3,5%
- Nilai Tukar Rupiah: Rp16.800 – Rp17.500 per Dolar AS
- Suku Bunga SBN 10 Tahun: 6,5% – 7,3%
- Harga Minyak Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP): US$70 – US$95 per barel
