Agroplus – Sosok Leopold Aschenbrenner pernah menjadi perbincangan hangat di Wall Street, dijuluki sebagai "nabi" atau visioner dalam dunia investasi kecerdasan buatan (AI). Namun, euforia itu berubah drastis akhir Juli lalu. Pendiri hedge fund Situational Awareness ini tiba-tiba menjadi buruan para pemberi pinjaman setelah portofolio investasinya yang masif nyaris hancur dalam hitungan hari.
Kisah dramatis ini bermula dari sebuah panggilan telepon mendadak yang diterima David Mann, CEO Mannsion Group, saat ia dalam taksi menuju Bandara LaGuardia. Penelepon, orang dekat Aschenbrenner, menawarkan penjualan sebagian saham Anthropic milik Situational. Kesepakatan itu, menurut si penelepon, harus rampung dalam semalam. "Aschenbrenner terpaksa menjual. Dia butuh uang," ungkap Mann kepada Wall Street Journal, menggambarkan betapa gentingnya situasi saat itu.

Aschenbrenner, seorang mantan karyawan OpenAI yang baru berusia 25 tahun, melejit namanya berkat esai setebal 165 halaman berjudul "Situational Awareness: The Decade Ahead" yang terbit pada tahun 2024. Esai tersebut meramalkan arah perkembangan AI di masa depan. Bermodal reputasi sebagai peramal ulung, dana kelolaannya melonjak drastis, dari sekitar US$1,5 miliar pada pertengahan tahun lalu menjadi lebih dari US$45 miliar pada awal Juli 2026. Angka fantastis ini, jika dikonversi dengan kurs sekitar Rp17.800/US$, setara dengan lebih dari Rp801 triliun.
Strategi investasinya sangat agresif: menempatkan posisi beli besar-besaran pada saham-saham yang diyakini akan menjadi "pemenang" di era AI, seperti produsen chip, sementara secara bersamaan melakukan short selling pada saham perusahaan software yang diperkirakan akan tergerus oleh AI. Untuk memperbesar potensi keuntungan, Situational menggunakan utang hingga US$3 untuk setiap US$1 modalnya sendiri, ditambah instrumen derivatif kustom yang disebut "flex options". Goldman Sachs, JPMorgan, Bank of America, dan Citigroup turut mendanai ambisi ini, meskipun Jefferies dan Barclays menolak menjadi mitra karena menilai portofolio Situational terlalu terkonsentrasi dan penuh risiko leverage.
Petaka mulai datang pada pertengahan Juli. Model AI open-source murah dari Tiongkok tiba-tiba mengubah sentimen pasar. Saham-saham andalan Situational seperti Bloom Energy, Sandisk, dan Nebius anjlok, sementara saham yang mereka short seperti Adobe, AppLovin, dan Figma justru mengalami rally. Kerugian pun datang dari dua arah sekaligus, memperparah kondisi keuangan fund tersebut.
Pada 24 Juli, Situational mengirimkan laporan kepada para investornya, mengakui kerugian di bulan Juli namun secara optimis menyebut ini sebagai "waktu yang tepat" untuk menambah dana. Namun, klaim itu gagal meredam kepanikan; klien berbondong-bondong menelepon kantor untuk menanyakan kabar. Seminggu kemudian, saham-saham yang menjadi target fund ini anjlok 9-24%. Di Wall Street, menjadi rahasia umum bahwa ada dana besar yang sedang melakukan "degrossing", yaitu penjualan paksa aset untuk menurunkan risiko dan leverage.
Pada Rabu, 29 Juli, tim Aschenbrenner memutar otak mencari dana tunai. Mereka mendekati Sequoia, Greenoaks, firma keluarga Michael Dell (DFO Management), hingga XN, menawarkan penjualan sebagian saham Anthropic senilai US$5 miliar dengan diskon 20% dan tenggat waktu hanya 12 jam. Greenoaks bahkan bekerja lembur semalaman menyiapkan transaksi yang dijadwalkan tuntas pukul 8 pagi keesokan harinya, lengkap dengan restu dari Anthropic.
Namun, di balik layar, Situational juga diam-diam menjalankan negosiasi lain dengan Citadel dan Millennium Management untuk menjual mayoritas portofolio saham likuidnya. Ken Griffin, bos Citadel, bahkan turun tangan langsung dari London. Ketika Citadel akhirnya memenangkan kesepakatan dengan diskon sekitar 10% dari harga pasar pada dini hari 30 Juli, Aschenbrenner secara sepihak membatalkan rencana penjualan saham Anthropic, membuat sejumlah calon investor geram.
Situational dan Citadel baru merampungkan penandatanganan dokumen sekitar pukul 9:10 pagi, hanya 20 menit sebelum pasar saham AS dibuka. Situational kemudian mengumumkan kabar buruk kepada para investornya: dana ini rugi sekitar 67% sepanjang Juli, setara sekitar US$30 miliar atau sekitar Rp534 triliun. Meskipun demikian, mereka masih mencatat keuntungan 80% sepanjang tahun berjalan. Jane Street, salah satu investor Situational, ikut menanggung kerugian sekitar US$15 miliar akibat kekacauan ini.
Di tengah badai finansial yang menghantam, akhir pekan yang sama Aschenbrenner justru melangsungkan pernikahan dengan Avital Balwit, chief of staff CEO Anthropic Dario Amodei, dalam upacara tepi pantai yang indah di Carmel, California. Dalam salah satu toast pernikahan, terselip sindiran setengah bercanda yang berterima kasih kepada Ken Griffin dan Citadel "karena membuat hari itu mungkin terjadi".
Kini, dana kelolaan Situational menyusut drastis, tinggal sekitar US$15 miliar (sekitar Rp267 triliun) dari puncaknya. Aschenbrenner dan timnya tengah menemui satu per satu klien untuk menjelaskan penyebab kerugian sekaligus melakukan evaluasi menyeluruh atas manajemen risiko mereka ke depan. Perlahan, fund ini mulai membangun ulang portofolio, termasuk menyuntik dana US$400 juta ke startup Source Foundry dan membeli saham SharonAI.
Kasus Situational Awareness ini kembali menjadi pengingat bagi pasar akan bahaya leverage berlebihan di industri hedge fund, beberapa tahun setelah keruntuhan Archegos Capital yang sempat mengguncang Wall Street. Bedanya kali ini, sang manajer dana tidak sampai gulung tikar, bahkan sempat merayakan pernikahan di tengah gejolak terbesar dalam kariernya.
(fsd/fsd)
