Agroplus – Dulu, membangun properti di Jakarta tanpa koneksi transportasi massal mungkin bukan masalah besar. Namun, kini, sebuah fenomena menarik terjadi di ibu kota. Para pengembang properti papan atas di DKI Jakarta menunjukkan perubahan sikap yang sangat drastis terkait keberadaan Moda Raya Terpadu (MRT). Jika sebelumnya ada yang menolak keras, kini mereka justru rela berkorban, bahkan menggeser batas properti demi kenyamanan pejalan kaki. Padahal, kita tahu, kawasan seperti Bundaran HI adalah salah satu yang termahal di Indonesia.
Perubahan ini bukan tanpa cerita. Direktur Utama PT Integrasi Transit Jakarta, Ferdiansyah Roestam, mengenang masa-masa sulit di tahun 2017-2018. Saat itu, tim MRT harus berjuang keras meyakinkan para pengembang bahwa konektivitas ini akan membawa nilai tambah. "Kami habiskan effort besar untuk meyakinkan semua pengembang: ‘kami membawa nilai tambah untuk Anda’," kenang Ferdiansyah. Bahkan, ada pengembang yang terang-terangan menolak, mengusir tim MRT yang datang menawarkan akses. "Saya tahu persis bagaimana teman-teman MRT diketok-ketok kemudian diusir," ujarnya, menggambarkan betapa kuatnya penolakan saat itu.

Namun, waktu membuktikan segalanya. Seiring beroperasinya MRT dan semakin terlihatnya manfaat nyata, pandangan para pengembang berbalik 180 derajat. Konektivitas transportasi publik kini dianggap sebagai aset berharga. Ambil contoh pembangunan Extended Concourse di area Bundaran HI. Ferdiansyah mengungkapkan, sebuah pusat perbelanjaan ternama di sana bahkan bersedia memundurkan area setback propertinya hingga 80 sentimeter. Ini bukan angka kecil, mengingat harga tanah di lokasi tersebut bisa mencapai ratusan juta rupiah per meter persegi.
Keputusan berani ini menunjukkan adanya pergeseran paradigma. Para pengembang kini tak lagi hanya fokus pada keuntungan semata, melainkan juga pada kualitas layanan publik dan kenyamanan. Mereka melihat bahwa kontribusi terhadap infrastruktur publik yang lebih baik pada akhirnya akan berujung pada peningkatan nilai properti mereka sendiri. "Sekarang kami dan MRT bertemu dengan paradigma baru. Para pengembang top tier ini sekarang berlomba, ada pride-nya, ‘saya mau kontribusi sama publik servis yang lebih layak karena ujung-ujungnya orang akan masuk ke properti saya lebih nyaman’," jelas Ferdiansyah.
Manfaatnya, menurut Ferdiansyah, bersifat dua arah. Masyarakat menikmati akses transportasi dan jalur pejalan kaki yang lebih nyaman, sementara pemilik properti mendapatkan akses yang lebih mudah bagi pengunjung dan calon konsumen. Ini adalah simbiosis mutualisme yang menguntungkan semua pihak. Penting untuk diingat, kawasan Thamrin-Sudirman, khususnya di sekitar Bundaran HI, memang dikenal sebagai salah satu koridor properti termahal di Indonesia. Country Head Knight Frank Indonesia, Willson Kalip, pernah menyebut bahwa harga tanah di sana bisa menembus angka fantastis Rp300 juta per meter persegi. Angka ini menegaskan betapa signifikannya keputusan pengembang untuk "mengalah" demi kenyamanan publik.
Perubahan sikap para pengembang ini menjadi bukti nyata bahwa integrasi transportasi publik dengan pengembangan properti adalah kunci menuju kota yang lebih modern, efisien, dan ramah pejalan kaki. Ini bukan hanya tentang membangun gedung tinggi, tetapi juga tentang menciptakan ekosistem urban yang saling mendukung dan memberikan nilai tambah bagi seluruh warganya.
