agroplus.co.id – Dunia investasi agribisnis global tengah menyoroti langkah mengejutkan yang diambil oleh mantan Menteri Luar Negeri Singapura, George Yeo. Di tengah tekanan pasar dan isu lingkungan yang membayangi perusahaan, Yeo dilaporkan melakukan aksi borong saham pada raksasa agribisnis, Wilmar International. Langkah berani ini dilakukan saat harga saham perusahaan tersebut sedang mengalami tren penurunan yang cukup signifikan.
Berdasarkan laporan yang dihimpun dari dokumen Bursa Efek Singapura, George Yeo telah menambah kepemilikan sahamnya sebanyak 100.000 lembar melalui transaksi di pasar terbuka pada awal November lalu. Transaksi ini dilakukan dengan harga S$2,97 per lembar saham, yang jika dikonversi ke dalam mata uang rupiah, mencapai nilai sekitar Rp4,19 miliar. Dengan tambahan ini, total kepemilikan saham Yeo di Wilmar kini telah menembus angka lebih dari satu juta lembar.

Aksi beli yang dilakukan oleh Yeo ini tergolong menarik perhatian karena dilakukan saat kondisi fundamental Wilmar sedang menghadapi tantangan besar. Dalam kurun waktu satu bulan terakhir, harga saham Wilmar tercatat merosot lebih dari 14 persen. Penurunan ini bukan tanpa alasan; perusahaan agribisnis tersebut tengah berada di bawah radar otoritas Singapura terkait dugaan keterkaitan dengan isu kebakaran lahan di Indonesia yang memicu kabut asap lintas batas.
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura (NEA) sebelumnya telah memberikan perhatian khusus terhadap sepuluh perusahaan besar, termasuk Wilmar. NEA meminta klarifikasi mendalam mengenai hubungan korporasi, kepemilikan konsesi lahan di Indonesia, hingga langkah-langkah konkret perusahaan dalam mencegah dan memadamkan kebakaran hutan. Bahkan, petinggi Wilmar, Kuok Khoon Hong, sempat dipanggil untuk menghadiri pertemuan tertutup dengan pemerintah Singapura.
Menanggapi situasi tersebut, pihak Wilmar menyatakan komitmennya untuk bersikap kooperatif. Perusahaan telah menunjuk Control Risks Group untuk melakukan penilaian independen guna memastikan apakah mereka memiliki keterkaitan dengan kebakaran lahan yang menyebabkan polusi kabut asap di Singapura dan Malaysia. Wilmar juga telah menyerahkan dokumen tahap pertama sebagai bentuk kepatuhan terhadap Undang-Undang Polusi Kabut Asap Lintas Batas.
Menariknya, dalam laporan sebelumnya, Wilmar mengakui pernah memasok pupuk dan bahan bakar diesel kepada beberapa perusahaan yang kini sedang diselidiki oleh NEA. Transaksi tersebut tercatat menyumbang pendapatan sekitar US$22,5 juta atau setara Rp407,25 miliar pada tahun fiskal 2025.
George Yeo sendiri bukanlah sosok sembarangan di dunia korporasi dan politik. Ia bergabung dengan dewan direksi Wilmar sebagai direktur independen pada April 2024. Pengalaman diplomatiknya sebagai mantan Menteri Luar Negeri Singapura hingga tahun 2011 serta rekam jejak eksekutifnya di Kerry Group memberikan sinyal kuat bahwa langkahnya membeli saham di saat harga rendah merupakan sebuah strategi investasi yang terukur. Mengingat Wilmar dan Kerry sama-sama berada di bawah kendali keluarga Kuok, kepercayaan Yeo terhadap stabilitas jangka panjang perusahaan ini menjadi sorotan para pelaku pasar.
