agroplus.co.id – Indonesia tengah memancang target besar untuk bertransformasi menjadi pemain kunci dalam industri emas global. Bukan sekadar sebagai produsen bahan mentah, pemerintah berambisi membawa negara ini masuk ke dalam rantai nilai yang lebih tinggi, mulai dari pemurnian, manufaktur perhiasan, hingga pusat perdagangan emas dunia.
Langkah strategis ini menjadi sorotan dalam ajang apresiasi sektor komoditas yang membahas potensi ekosistem emas nasional. Dalam diskusi tersebut, terungkap bahwa emas bukan hanya sekadar instrumen investasi atau alat lindung nilai (hedging) di tengah ketidakpastian geopolitik global, melainkan juga motor penggerak pertumbuhan ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah industri yang masif.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, menekankan pentingnya membangun ekosistem emas yang tidak hanya berdaya saing tinggi, tetapi juga terintegrasi dan inklusif. Menurutnya, kolaborasi antar pemangku kepentingan sangat diperlukan agar Indonesia tidak hanya menjadi penonton di tengah dinamika pasar emas dunia.
Saat ini, Indonesia memang memiliki kekayaan emas yang luar biasa. Namun, terdapat tantangan besar di mana rantai nilai emas nasional masih sangat terkonsentrasi pada sektor hulu atau penambangan saja. Kondisi ini menciptakan ketimpangan ekonomi yang cukup mencolok. Data menunjukkan bahwa Indonesia diperkirakan mengekspor emas dengan nilai sekitar USD 5 miliar, namun di sisi lain, kita justru harus mengimpor produk emas batangan hingga mencapai USD 2 miliar setiap tahunnya.
Angka impor yang besar ini menjadi sinyal kuat bahwa ada peluang emas yang terlewatkan. Indonesia memiliki ruang yang sangat luas untuk mengembangkan sektor pengolahan, pemurnian (refinery), hingga industri manufaktur perhiasan yang lebih canggih. Jika sektor hilir ini dikelola dengan serius, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada produk luar negeri dan justru bisa menjadi eksportir produk emas bernilai tambah tinggi.
Selain potensi industri, terdapat "harta karun" tersembunyi yang belum tersentuh secara optimal. Diperkirakan terdapat sekitar 1.800 ton emas yang saat ini masih tersimpan di tengah masyarakat dan belum masuk ke dalam sistem keuangan nasional. Jika dikonversi ke dalam nilai mata uang, potensi kekayaan ini mencapai angka fantastis, yakni USD 252 miliar.
Optimalisasi emas masyarakat ke dalam sistem keuangan nasional, misalnya melalui mekanisme gold bullion, akan membawa dampak domino yang positif. Selain memperdalam sistem keuangan domestik, hal ini juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat serta menyediakan likuiditas yang dapat digunakan untuk mendorong pertumbuhan industri lainnya.
Dengan strategi yang tepat, pengembangan ekosistem emas melalui sistem bullion diharapkan mampu mengubah wajah ekonomi Indonesia, dari sekadar eksportir komoditas mentah menjadi pusat manufaktur dan perdagangan emas yang disegani di kancah internasional.
