Agroplus – Pasar modal Indonesia kembali diwarnai dinamika menarik. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), salah satu emiten perbankan berkapitalisasi besar yang kerap menjadi incaran investor, justru menjadi sasaran penjualan masif oleh investor asing pada perdagangan Senin (9/2/2026). Aksi jual ini mencapai nilai fantastis Rp 714,8 miliar hanya dalam sehari, menimbulkan pertanyaan di tengah optimisme pasar yang sedang menguat.
Data menunjukkan bahwa tekanan jual asing terhadap BBCA jauh melampaui saham-saham lainnya yang juga dilepas. Rata-rata harga jual yang dilakukan investor asing tercatat di level Rp 7.542,2. Imbasnya, harga saham BBCA harus merosot 2,28% dan ditutup pada posisi Rp 7.500 kemarin. Penurunan ini kontras dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang justru berhasil menguat 1,22% pada hari yang sama.

Fenomena penjualan asing di BBCA ini bukanlah hal baru. Sejak awal tahun, akumulasi net foreign sell pada saham BBCA telah membengkak menjadi Rp 12,41 triliun, menjadikannya saham dengan penjualan bersih asing terbesar sepanjang tahun berjalan. Hari ini, pergerakan BBCA masih berkutat di sekitar level Rp 7.500-an, menunjukkan sentimen yang belum banyak berubah di kalangan investor.
Meski BBCA menghadapi tekanan, IHSG secara keseluruhan melanjutkan tren positifnya. Hingga pukul 09.30 WIB pagi ini, IHSG berhasil melonjak 83,89 poin, mencapai level 8.115,76. Kenaikan ini didukung oleh mayoritas saham yang bergerak positif, dengan 479 saham menguat, 142 melemah, dan 337 lainnya stagnan. Total nilai transaksi pasar mencapai Rp 4,54 triliun, melibatkan 10,29 miliar saham dalam 550.000 kali transaksi, mendorong kapitalisasi pasar naik menjadi Rp 14.692 triliun.
Di sisi lain, saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) menjadi bintang pagi ini dengan volume transaksi tertinggi, mencapai Rp 1,5 triliun. Saham BUMI mencatat kenaikan signifikan sebesar 6,67% ke level Rp 256, menunjukkan bahwa ada sektor-sektor lain yang menarik minat investor di tengah gejolak pada saham perbankan besar. Dinamika ini memperlihatkan kompleksitas pasar modal, di mana pergerakan satu saham blue chip tidak selalu mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan.
