Agroplus – Kabar terbaru dari kancah ekonomi global kembali menyoroti ketahanan fundamental Indonesia. Lembaga pemeringkat internasional Moody’s, pada 5 Februari 2026, memang mempertahankan peringkat kredit kedaulatan Republik Indonesia di level Baa2, namun mereka melakukan penyesuaian outlook menjadi negatif. Sebuah sinyal yang mungkin membuat sebagian pihak khawatir, namun Bank Indonesia (BI) dengan sigap memberikan respons menenangkan: fondasi ekonomi dan sektor keuangan Tanah Air tetap kokoh tak tergoyahkan.
Penyesuaian outlook ini datang setelah Indonesia kembali menunjukkan performa pertumbuhan ekonomi yang impresif. Pada kuartal IV-2025, ekonomi kita berhasil tumbuh 5,39%, menjaga pertumbuhan tahunan stabil di angka 5,11%. Namun, Moody’s melihat adanya risiko dari penurunan kepastian kebijakan yang, jika berlanjut, berpotensi memengaruhi kinerja perekonomian.

Namun, Bank Indonesia tak gentar. Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial, Alexander Lubis, menegaskan bahwa penyesuaian outlook ini sama sekali tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia. "Fundamental kita dari sisi pertumbuhan ekonomi cukup baik. Indonesia masih tumbuh 5%," ujar Alexander dalam Editor’s Briefing di Pontianak, Kalimantan Barat, Jumat (6/2/2026). Ia menambahkan, stabilitas sistem keuangan (SSK) juga sangat solid, dengan rasio permodalan mencapai 28% dan rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) di level 26% pada akhir 2025.
Alexander Lubis juga menepis kekhawatiran akan dampak lanjutan seperti capital outflow, depresiasi nilai tukar, atau lonjakan inflasi. Bank Indonesia, katanya, akan selalu sigap menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi. Ia juga menjamin bahwa rilis Moody’s ini tidak akan menekan perbankan nasional, baik dari sisi likuiditas maupun penyaluran kredit. "Dari SSK fundamental kita masih sangat kuat, artinya ke depan kita masih dengan tetap data dependent dengan data yang kita observasi itu, (BI) masih mengarah stance kita pro-growth," tegasnya, menambahkan optimisme terhadap kinerja perbankan ke depan.
Dalam laporannya, Moody’s memang menyoroti beberapa aspek penting. Mereka memperkirakan defisit fiskal akan tetap terjaga di bawah 3% PDB, sementara kebijakan moneter dianggap akan terus efektif mendukung stabilitas inflasi. Rasio utang pemerintah terhadap PDB juga diproyeksikan akan tetap rendah, bahkan di bawah rata-rata negara-negara sebanding.
Namun demikian, Moody’s juga menggarisbawahi tantangan bagi Indonesia untuk meningkatkan basis penerimaan negara. Peningkatan ini krusial untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan, sembari tetap menjaga stabilitas makro dan keuangan. Di sisi lain, Moody’s mengapresiasi upaya pemerintah dalam mendorong penerimaan, seperti melalui peningkatan efisiensi administrasi perpajakan dan kepabeanan.
Satu poin lain yang menjadi perhatian Moody’s adalah kurangnya penjelasan yang memadai dari pemerintah dan lembaga pengelola investasi baru, yakni Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara). Meskipun ada penyesuaian outlook dari Moody’s, Bank Indonesia meyakinkan bahwa fondasi ekonomi Indonesia, layaknya tanah subur yang siap ditanami, tetap kuat dan prospektif untuk tumbuh.
