Agroplus – Awal pekan ini menjadi mimpi buruk bagi pasar modal Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara mengejutkan terperosok dalam ke zona merah, bahkan sempat anjlok lebih dari 4% pada sesi perdagangan pagi, menyentuh titik terendah 7.904. Sebuah sinyal tekanan yang tak bisa diabaikan, memicu kekhawatiran di kalangan investor.
Menurut Nafan Aji Gusta, Senior Market Analis dari Mirae Asset Sekuritas, kegelisahan investor saat ini berpusat pada penantian hasil pertemuan krusial antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan MSCI. Pertemuan yang dijadwalkan pada 2 Februari 2026 ini menjadi penentu arah, terutama karena membahas penyesuaian aturan free float saham. "Rencana penyesuaian batas free float saham dari 7,5% menjadi 15%, yang ditargetkan berlaku Februari 2026, menjadi sorotan utama," jelas Nafan kepada CNBC Indonesia, Senin (2/2/2026), menggarisbawahi sentimen pasar yang sangat bergantung pada agenda tersebut.

Pandangan serupa diutarakan oleh Herditya Wicaksana, Head of Retail Research MNC Sekuritas. Ia memperingatkan bahwa pergerakan IHSG masih sangat rentan terhadap koreksi. "Pasar cenderung bersikap wait and see terhadap hasil pertemuan BEI dengan MSCI mengenai transparansi data free float," ujar Herditya. Tak hanya itu, tekanan juga datang dari performa emiten-emiten konglomerasi serta emiten emas yang terbebani oleh koreksi harga emas dunia. Dari analisis teknikal, Herditya bahkan tidak menutup kemungkinan skenario terburuk, di mana IHSG bisa meluncur ke bawah level 7.000.
Sementara itu, Lukman Leong, Analis mata uang dari Doo Financial Futures, menyoroti bahwa target free float 15% kemungkinan besar sulit terealisasi dalam waktu dekat. Kondisi ini, menurutnya, terus menjadi beban berat bagi pergerakan IHSG. "Ancaman penurunan peringkat oleh MSCI ke status frontier market, ditambah rekomendasi underweight dari Goldman Sachs, memang masih sangat membebani pasar," pungkas Lukman. Ia menambahkan, potensi IHSG untuk menyentuh level 7.000-an saat ini sangat besar dan perlu diwaspadai.
Dengan berbagai sentimen negatif dan proyeksi yang mengkhawatirkan ini, investor diimbau untuk tetap berhati-hati dan mencermati setiap perkembangan pasar. Apakah IHSG akan mampu bangkit dari tekanan ini atau justru semakin terperosok ke bawah 7.000? Waktu yang akan menjawab.
