agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil mencatatkan penguatan signifikan sebesar 2,25 persen atau melonjak 110,49 poin. Penutupan yang kuat ini membawa indeks ke level psikologis penting, yakni di angka 5.030,26.
Sejak bel pembukaan perdagangan berbunyi, optimisme investor sudah terlihat jelas. IHSG dibuka pada posisi 4.998,34, yang berarti sudah menguat sekitar 78,57 poin dibandingkan penutupan hari sebelumnya. Menariknya, sepanjang sesi perdagangan, indeks tidak pernah menyentuh zona merah. Titik terendah hari ini tercatat pada level 4.995,46, namun angka tersebut masih berada di atas posisi penutupan hari Rabu.

Tren positif ini terus berlanjut hingga indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di angka 5.072,05, atau melesat sekitar 3,1 persen. Meski sempat mengalami sedikit koreksi menjelang penutupan perdagangan, IHSG tetap mampu bertahan di atas level krusial 5.000. Aktivitas transaksi hari ini tergolong sangat ramai dengan volume mencapai 212,92 juta lot dan nilai transaksi menembus angka Rp9,06 triliun.
Jika menilik pergerakan sektor, sektor teknologi menjadi primadona yang mengerek performa pasar dengan kenaikan tajam sebesar 4,60 persen. Selain itu, sektor material dasar (basic materials) dan jasa pendidikan turut menyumbang penguatan masing-masing sebesar 3,48 persen dan 2,56 persen. Beberapa saham raksasa seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) menjadi motor utama penggerak indeks.
Kenaikan tajam ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Di kancah internasional, hasil pemilu paruh waktu di Amerika Serikat memberikan kejutan besar. Kemenangan telak Partai Demokrat yang berhasil merebut kendali Senat dan DPR AS menciptakan dinamika politik baru di Washington. Kondisi ini diprediksi akan memberikan tekanan pada kebijakan luar negeri Presiden Donald Trump, terutama terkait ketegangan di Timur Tengah.
Sentimen positif lainnya datang dari anjloknya harga minyak mentah dunia yang merosot lebih dari 8 persen. Penurunan harga minyak Brent dan WTI ini memberikan ruang napas bagi pasar global. Selain itu, data tenaga kerja AS yang melampaui ekspektasi serta penyusutan defisit perdagangan Amerika Serikat turut memberikan gambaran stabilitas ekonomi yang menarik perhatian investor global.
Di dalam negeri, investor juga tengah mencermati rilis data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal III-2026 serta rencana perluasan bantuan BPJS Kesehatan. Kombinasi antara stabilitas ekonomi domestik dan perubahan peta politik global inilah yang menjadi bahan bakar utama bagi reli IHSG pada hari ini.
