agroplus.co.id – Proyeksi ekonomi global mulai menunjukkan titik terang menyusul dinamika politik terbaru di Amerika Serikat. Kepala Ekonom Bank Danamon, Irman Faiz, memprediksi akan terjadi penurunan harga minyak mentah dunia yang signifikan pada tahun 2027. Penurunan ini diharapkan mampu memberikan napas lega bagi stabilitas ekonomi dunia, terutama dalam meredam laju inflasi global yang selama ini menjadi tantangan besar bagi banyak negara.
Berdasarkan analisis terbaru, Irman memproyeksikan harga minyak mentah dunia akan melandai hingga menyentuh level US$85 per barel pada tahun 2027. Angka ini menunjukkan tren penurunan yang cukup tajam jika dibandingkan dengan estimasi harga rata-rata minyak mentah dunia yang diperkirakan masih berada di kisaran US$100 per barel pada akhir tahun 2026.

"Berdasarkan data terbaru yang kami himpun, houseview kami menunjukkan harga minyak akan berada di level US$95 per barel hingga akhir tahun ini. Namun, memasuki tahun depan, kami memproyeksikan harga minyak Brent bisa turun ke angka US$85 per barel," ujar Irman dalam sebuah media briefing di Sabang, Kamis (5/11/2026).
Faktor utama yang menjadi pemicu optimisme ini adalah hasil pemilihan sela (midterm election) di Amerika Serikat. Kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan tersebut dianggap sebagai angin segar bagi stabilitas geopolitik. Irman menilai, dominasi Partai Demokrat di House of Representatives (DPR) dan Senate akan menjadi penyeimbang atau "rem" bagi kebijakan Presiden Donald Trump, terutama terkait ambisi memperluas konflik di Timur Tengah.
Dengan kontrol mayoritas di kongres, anggaran untuk melanjutkan eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran diprediksi akan lebih sulit disetujui. Hal ini diharapkan dapat menahan ketegangan geopolitik yang selama ini menjadi motor utama melonjaknya harga energi di pasar global.
Selain faktor politik, potensi kelebihan pasokan (oversupply) juga menjadi faktor pendukung turunnya harga minyak. Organisasi negara-negara pengekspor minyak (OPEC) dilaporkan akan menjaga tingkat produksi mereka agar tidak menurun pada tahun 2027. Jika ketegangan geopolitik mereda dan fasilitas pengolahan minyak (refineries) yang sempat tutup akibat konflik kembali beroperasi, maka pasar akan dibanjiri oleh pasokan minyak yang melimpah.
Kondisi pasar saat ini pun sebenarnya sudah mulai menunjukkan tanda-tanda penurunan. Harga minyak mentah acuan Brent tercatat berada di level US$96,95 per barel, merosot sekitar 17,6% dari puncak tertingginya sebesar US$117,64 pada akhir Oktober 2026. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami penurunan sebesar 14,1% ke posisi US$89,44 per barel.
"Kami mengekspektasikan kondisi tahun depan akan jauh lebih membaik karena faktor utama, yaitu hasil pemilihan sela, berjalan sesuai dengan perkiraan kami," tutup Irman.
