Close Menu
    What's Hot

    Bisnis Gadai Meroket 50,73%! Sektor Lain Tertinggal Jauh?

    07-09-2026 - 15.06

    Fenomena Saham: Naik Gila-gilaan, Lalu Digembok!

    07-09-2026 - 10.06

    Mulai September 2026: Saldo Prioritas Bank Terkuak!

    07-09-2026 - 05.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Bisnis Gadai Meroket 50,73%! Sektor Lain Tertinggal Jauh?
    • Fenomena Saham: Naik Gila-gilaan, Lalu Digembok!
    • Mulai September 2026: Saldo Prioritas Bank Terkuak!
    • Pernah Jadi Raja Gula Dunia, Kekayaan Rp 43 T Raib!
    • Waspada! BEI Perketat Saham Papan Pemantauan Khusus!
    • BBM Melambung, Manisnya Es Krim Terancam Pahit?
    • Terkuak! Emas 30.000 Ton Banten, Dirampok Penjajah?
    Senin, 7 September 2026
    agroplus
    Home - Pangan - BBM Melambung, Manisnya Es Krim Terancam Pahit?
    Pangan

    BBM Melambung, Manisnya Es Krim Terancam Pahit?

    06-09-2026 - 15.062 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    Agroplus – Industri es krim, yang dikenal dengan produk manis nan menyegarkan, kini menghadapi tantangan pahit di tengah gejolak harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan biaya logistik akibat lonjakan harga BBM diperkirakan akan memangkas margin keuntungan dan menghambat ekspansi, terutama untuk distribusi ke luar Pulau Jawa. Situasi ini terjadi meskipun konsumsi rumah tangga masih menjadi pilar utama penopang perekonomian Indonesia.

    Data ekonomi menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga memegang peranan krusial, menyumbang 53,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga kuartal kedua tahun 2026. Angka ini secara langsung mendorong pertumbuhan signifikan di sektor makanan dan minuman, sebuah kabar baik bagi banyak pelaku industri. Namun, bagi produsen es krim, optimisme ini tidak serta merta berbuah manis.

    BBM Melambung, Manisnya Es Krim Terancam Pahit?
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    Direktur PT Campina Ice Cream Industry, Tbk (CAMP), Adji Andjono, mengungkapkan bahwa di tengah geliat industri makanan dan minuman secara keseluruhan, bisnis es krim justru bergerak stagnan. Baik dari segi nilai penjualan maupun volume, pertumbuhan sektor ini terbilang lambat. "Es krim bukanlah makanan pokok," ujar Adji, menjelaskan mengapa produk ini lebih rentan terhadap fluktuasi daya beli dan prioritas pengeluaran konsumen dibandingkan kebutuhan dasar lainnya.

    Untuk menggenjot penjualan, industri es krim sangat bergantung pada momentum musiman seperti perayaan Idul Fitri, liburan anak sekolah, serta periode Natal dan Tahun Baru. Selain itu, strategi penjualan juga difokuskan pada jaringan ritel yang luas, mulai dari minimarket modern hingga toko kelontongan tradisional, dengan pendekatan pemasaran yang disesuaikan dengan segmen konsumen masing-masing.

    Namun, kendala tidak hanya datang dari sifat produk itu sendiri. Industri es krim juga dihadapkan pada tantangan serius terkait bahan baku. Ketergantungan pada bahan baku impor menjadi pedang bermata dua, terutama saat nilai tukar Rupiah melemah. Ini berarti biaya produksi bisa membengkak secara signifikan. Lebih lanjut, biaya distribusi ke wilayah di luar Pulau Jawa terus merangkak naik, sejalan dengan kenaikan harga BBM. Lonjakan ongkos angkut ini secara langsung memengaruhi harga jual di daerah terpencil dan mengurangi daya saing produk.

    Dengan berbagai tekanan ekonomi global dan domestik, prospek bisnis es krim di tengah ketidakpastian tahun 2026 menjadi pertanyaan besar. Bagaimana para pelaku industri, termasuk Campina, akan beradaptasi menghadapi tantangan biaya bahan baku impor dan lonjakan ongkos distribusi? Ulasan mendalam mengenai tantangan dan prospek ini sebelumnya telah dibahas oleh Serliana Salsabila bersama Direktur PT Campina Ice Cream Industry Tbk, Adji Andjono, dalam program Closing Bell CNBC Indonesia pada Rabu, 02 September 2026.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Bisnis Gadai Meroket 50,73%! Sektor Lain Tertinggal Jauh?

    07-09-2026 - 15.06

    Fenomena Saham: Naik Gila-gilaan, Lalu Digembok!

    07-09-2026 - 10.06

    Mulai September 2026: Saldo Prioritas Bank Terkuak!

    07-09-2026 - 05.06

    Pernah Jadi Raja Gula Dunia, Kekayaan Rp 43 T Raib!

    07-09-2026 - 02.06

    Waspada! BEI Perketat Saham Papan Pemantauan Khusus!

    06-09-2026 - 20.06

    Terkuak! Emas 30.000 Ton Banten, Dirampok Penjajah?

    06-09-2026 - 10.06
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Bisnis Gadai Meroket 50,73%! Sektor Lain Tertinggal Jauh?

    Agroplus – Di tengah dinamika ekonomi yang penuh tantangan, industri pergadaian justru menunjukkan performa yang…

    Fenomena Saham: Naik Gila-gilaan, Lalu Digembok!

    07-09-2026 - 10.06

    Mulai September 2026: Saldo Prioritas Bank Terkuak!

    07-09-2026 - 05.06

    Pernah Jadi Raja Gula Dunia, Kekayaan Rp 43 T Raib!

    07-09-2026 - 02.06
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.