Agroplus – Industri es krim, yang dikenal dengan produk manis nan menyegarkan, kini menghadapi tantangan pahit di tengah gejolak harga bahan bakar minyak (BBM). Kenaikan biaya logistik akibat lonjakan harga BBM diperkirakan akan memangkas margin keuntungan dan menghambat ekspansi, terutama untuk distribusi ke luar Pulau Jawa. Situasi ini terjadi meskipun konsumsi rumah tangga masih menjadi pilar utama penopang perekonomian Indonesia.
Data ekonomi menunjukkan bahwa konsumsi rumah tangga memegang peranan krusial, menyumbang 53,32% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia hingga kuartal kedua tahun 2026. Angka ini secara langsung mendorong pertumbuhan signifikan di sektor makanan dan minuman, sebuah kabar baik bagi banyak pelaku industri. Namun, bagi produsen es krim, optimisme ini tidak serta merta berbuah manis.

Direktur PT Campina Ice Cream Industry, Tbk (CAMP), Adji Andjono, mengungkapkan bahwa di tengah geliat industri makanan dan minuman secara keseluruhan, bisnis es krim justru bergerak stagnan. Baik dari segi nilai penjualan maupun volume, pertumbuhan sektor ini terbilang lambat. "Es krim bukanlah makanan pokok," ujar Adji, menjelaskan mengapa produk ini lebih rentan terhadap fluktuasi daya beli dan prioritas pengeluaran konsumen dibandingkan kebutuhan dasar lainnya.
Untuk menggenjot penjualan, industri es krim sangat bergantung pada momentum musiman seperti perayaan Idul Fitri, liburan anak sekolah, serta periode Natal dan Tahun Baru. Selain itu, strategi penjualan juga difokuskan pada jaringan ritel yang luas, mulai dari minimarket modern hingga toko kelontongan tradisional, dengan pendekatan pemasaran yang disesuaikan dengan segmen konsumen masing-masing.
Namun, kendala tidak hanya datang dari sifat produk itu sendiri. Industri es krim juga dihadapkan pada tantangan serius terkait bahan baku. Ketergantungan pada bahan baku impor menjadi pedang bermata dua, terutama saat nilai tukar Rupiah melemah. Ini berarti biaya produksi bisa membengkak secara signifikan. Lebih lanjut, biaya distribusi ke wilayah di luar Pulau Jawa terus merangkak naik, sejalan dengan kenaikan harga BBM. Lonjakan ongkos angkut ini secara langsung memengaruhi harga jual di daerah terpencil dan mengurangi daya saing produk.
Dengan berbagai tekanan ekonomi global dan domestik, prospek bisnis es krim di tengah ketidakpastian tahun 2026 menjadi pertanyaan besar. Bagaimana para pelaku industri, termasuk Campina, akan beradaptasi menghadapi tantangan biaya bahan baku impor dan lonjakan ongkos distribusi? Ulasan mendalam mengenai tantangan dan prospek ini sebelumnya telah dibahas oleh Serliana Salsabila bersama Direktur PT Campina Ice Cream Industry Tbk, Adji Andjono, dalam program Closing Bell CNBC Indonesia pada Rabu, 02 September 2026.
