agroplus.co.id – Dunia teknologi saat ini tengah diguncang oleh perdebatan sengit mengenai masa depan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Di tengah euforia kemajuan teknologi yang dianggap mempermudah hidup, muncul sebuah peringatan ekstrem dari sosok yang sangat memahami seluk-beluk sistem tersebut. Nate Soares, seorang mantan pakar AI dari raksasa teknologi Google, melontarkan pernyataan mengejutkan yang membuat banyak orang berpikir ulang tentang masa depan.
Soares mengungkapkan bahwa ia telah memutuskan untuk berhenti menyisihkan uang demi dana pensiun sejak sekitar sepuluh tahun yang lalu. Keputusan finansial yang tidak lazim ini bukan didasari oleh gaya hidup konsumtif, melainkan karena sebuah ketakutan eksistensial: ia merasa umat manusia mungkin tidak akan memiliki masa depan yang cukup panjang untuk menikmati masa tua.

Dalam sebuah diskusi mendalam di sebuah podcast bersama CEO The Atlantic, Nicholas Thompson, Soares memaparkan prediksinya yang kelam. Ia memperkirakan bahwa probabilitas AI memicu kepunahan manusia dalam kurun waktu 10 tahun ke depan mencapai lebih dari 50 persen. "Saya rasa saat ini kita mungkin tidak punya waktu satu dekade lagi," ungkapnya dengan nada serius.
Ketakutan ini bukan tanpa dasar. Soares, yang kini menjabat sebagai presiden Machine Intelligence Research Institute (MIRI), merupakan salah satu tokoh yang memegang teguh konsep AI doomerism. Pandangan ini meyakini bahwa pengembangan AI supercerdas yang tidak terkendali dapat menjadi ancaman fatal bagi keberlangsungan hidup manusia.
Menariknya, Soares menegaskan bahwa kekhawatirannya bukan terletak pada isu pengangguran massal akibat otomatisasi. Baginya, hilangnya lapangan pekerjaan bukanlah masalah utama jika dibandingkan dengan risiko kepunahan total. Ia bahkan berseloroh bahwa jika skenario terburuk terjadi, manusia mungkin justru akan berada dalam kondisi "lapangan kerja penuh" sesaat sebelum seluruh umat manusia musnah.
Menanggapi skeptisisme mengenai keterbatasan AI saat ini, Soares memberikan analogi yang sangat tajam. Ia membandingkan perkembangan AI dengan transisi dari penggunaan kuda ke mobil. Jika kuda melihat mobil pada masa awal penemuannya, mungkin kuda akan merasa teknologi tersebut belum mampu menggantikan peran mereka. Namun, sejarah membuktikan bahwa perkembangan teknologi bersifat eksponensial dan tak terhentikan.
Sebagai solusi untuk mencegah bencana global ini, Soares mengusulkan adanya pembatasan ketat dalam pengembangan skala kemampuan AI. Ia tidak melarang penggunaan AI untuk tujuan bermanfaat, seperti membantu riset medis untuk menemukan obat kanker. Namun, ia sangat menentang upaya ambisius untuk menciptakan AI yang bertujuan meniru sekaligus melampaui kecerdasan manusia secara utuh. Menurutnya, mengejar kecerdasan yang melampaui manusia adalah langkah yang sangat berisiko dan tidak seharusnya menjadi target utama pengembangan teknologi saat ini.
