Close Menu
    What's Hot

    Dominasi BTN di Pasar Perumahan Nasional

    26-10-2026 - 10.06

    Strategi OJK Hadapi Ancaman MSCI

    26-10-2026 - 10.02

    IHSG Rebound Tapi Asing Jual Saham

    26-10-2026 - 08.06
    Laman
    • Disclaimer
    • Kebijakan Privasi
    • Kontak
    • Pedoman Media Siber
    • Redaksi
    • Tentang Kami
    agroplus
    • Home
    • Berita
    • Pangan
    Terbaru
    • Dominasi BTN di Pasar Perumahan Nasional
    • Strategi OJK Hadapi Ancaman MSCI
    • IHSG Rebound Tapi Asing Jual Saham
    • Misteri Saham yang Diborong Asing
    • Agoes Projosasmito Borong Saham BRMS Miliaran Rupiah
    • Inflasi Jepang Melonjak Tajam Tahun Ini
    • Jangan Asal Beli Saham Murah Saat Turun
    • Antam Bakal Kelola Tambang Emas Baru di Papua
    Senin, 26 Oktober 2026
    agroplus
    Home - Pangan - Aturan Saham RI Lebih Ketat dari Dunia
    Pangan

    Aturan Saham RI Lebih Ketat dari Dunia

    24-10-2026 - 05.023 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp Copy Link

    agroplus.co.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan bahwa regulasi pasar modal di Indonesia saat ini memiliki standar transparansi yang jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara lain di dunia. Salah satu poin krusial yang menjadi sorotan adalah mengenai kewajiban keterbukaan informasi kepemilikan saham serta aturan mengenai porsi saham publik atau free float.

    Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menjelaskan bahwa Indonesia telah menerapkan aturan yang sangat ketat dalam hal pengungkapan kepemilikan saham. Di pasar modal Indonesia, setiap kepemilikan saham mulai dari angka 1 persen sudah wajib diungkapkan secara transparan kepada publik. Angka ini menunjukkan tingkat ketelitian yang luar biasa, mengingat di banyak pasar modal negara lain, batas minimal pengungkapan biasanya berada di angka yang jauh lebih tinggi, yakni di atas 5 persen.

    Aturan Saham RI Lebih Ketat dari Dunia
    Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

    "Melalui mekanisme disclosure ini, kita bisa melihat bahwa di Indonesia, angka 1 persen saja sudah wajib dibuka. Sementara itu, di pasar negara lain, batasnya masih di atas 5 persen," ujar Friderica saat memberikan keterangan di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (23/10/2026).

    Lebih lanjut, Friderica mengungkapkan bahwa OJK tidak hanya sekadar mengatur angka kepemilikan, tetapi juga telah menyusun klasifikasi investor yang sangat mendalam. Saat ini, terdapat 39 klasifikasi tipe investor yang diterapkan di Indonesia. Detail yang sangat granular ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai profil pemilik aset di pasar modal. Hal ini sangat kontras dengan banyak negara lain yang bahkan tidak memiliki rincian klasifikasi investor secara spesifik.

    Langkah proaktif ini, menurut wanita yang akrab disapa Kiki tersebut, merupakan bagian dari agenda besar reformasi pasar modal Indonesia. Kebijakan ini juga diambil sebagai respons terhadap perhatian dari lembaga indeks global seperti MSCI, guna memastikan pasar modal Indonesia semakin kompetitif dan kredibel di mata investor internasional.

    Selain masalah transparansi, Indonesia juga memiliki aturan ketat terkait proses Penawaran Umum Perdana atau Initial Public Offering (IPO). Perusahaan yang ingin melantai di bursa diwajibkan untuk menyediakan porsi saham publik dalam rentang 15 persen hingga 25 persen. Hal ini dilakukan untuk memastikan likuiditas pasar dan memberikan ruang bagi masyarakat luas untuk berpartisipasi dalam kepemilikan perusahaan.

    Di tengah dinamika pasar, Kiki juga memberikan catatan positif mengenai performa emiten di Indonesia. Berdasarkan data kinerja pada kuartal II tahun 2026, sektor emiten menunjukkan pertumbuhan yang sangat menjanjikan. Pendapatan perusahaan secara keseluruhan tercatat mengalami kenaikan sebesar 15,9 persen, yang dibarengi dengan pertumbuhan laba bersih yang signifikan.

    Dari total 962 emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sebanyak 74 persen di antaranya berhasil membukukan laba. Angka ini menjadi bukti nyata bahwa fundamental ekonomi dan kinerja perusahaan-perusahaan di Indonesia berada dalam kondisi yang sangat kokoh. Friderica menekankan bahwa fluktuasi atau tekanan yang sesekali terjadi di pasar saham tidak seharusnya dijadikan tolok ukur tunggal, karena hal tersebut tidak mencerminkan kondisi kinerja riil para emiten yang sebenarnya sedang bertumbuh kuat.

    Follow on Google News
    Sasmito

    gaya penulisan yang praktis dan berbasis pengalaman, Sasmito menyajikan informasi terkini tentang teknik budidaya, pasar komoditas, serta isu lingkungan pertanian. Dedikasinya untuk mendukung petani lokal menjadikan tulisannya sebagai panduan berharga bagi pelaku sektor agraris.

    Related Posts

    Dominasi BTN di Pasar Perumahan Nasional

    26-10-2026 - 10.06

    Strategi OJK Hadapi Ancaman MSCI

    26-10-2026 - 10.02

    IHSG Rebound Tapi Asing Jual Saham

    26-10-2026 - 08.06

    Misteri Saham yang Diborong Asing

    26-10-2026 - 08.02

    Agoes Projosasmito Borong Saham BRMS Miliaran Rupiah

    26-10-2026 - 05.06

    Inflasi Jepang Melonjak Tajam Tahun Ini

    26-10-2026 - 05.02
    Add A Comment
    Leave A Reply Cancel Reply

    Don't Miss
    Pangan

    Dominasi BTN di Pasar Perumahan Nasional

    agroplus.co.id – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) semakin mengukuhkan posisinya sebagai raksasa pembiayaan…

    Strategi OJK Hadapi Ancaman MSCI

    26-10-2026 - 10.02

    IHSG Rebound Tapi Asing Jual Saham

    26-10-2026 - 08.06

    Misteri Saham yang Diborong Asing

    26-10-2026 - 08.02
    Top Posts

    Inpres Jaga Harga Beras, Petani Untung Besar!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Gabah Anjlok, Bulog Turun Tangan!

    09-04-2025 - 07.38

    Harga Pangan Terjangkau, Prabowo Puas!

    09-04-2025 - 08.22

    Rahasia Sukses Swasembada Pangan: Prabowo Ungkap Sosok Mentan yang Luar Biasa!

    09-04-2025 - 10.06
    agroplus
    © 2026 KR Network

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.