agroplus.co.id – Langkah strategis Bank Indonesia (BI) dalam mengelola kebijakan moneter diprediksi akan tetap berada pada jalur yang konservatif dalam waktu dekat. Asian Development Bank (ADB) memberikan proyeksi bahwa otoritas moneter Indonesia kemungkinan besar akan mempertahankan tingkat suku bunga acuan atau BI Rate hingga penghujung tahun 2026.
Keputusan ini menyusul langkah dewan gubernur BI yang tetap menjaga BI Rate pada level 5,75% dalam rapat terbaru. Jika tren ini berlanjut, maka BI akan mempertahankan suku bunga tersebut selama empat bulan berturut-turut sejak keputusan pertama diambil pada Juni 2026. Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan terhadap dinamika ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian.

Dalam laporan terbarunya, Asian Development Outlook edisi September 2026 menyebutkan bahwa Bank Indonesia perlu mengambil sikap yang sangat hati-hati atau prudent. Hal ini disebabkan oleh kondisi keuangan global yang masih mengetat serta posisi nilai tukar rupiah yang sangat rentan terhadap fluktuasi arus modal asing. Fokus utama BI saat ini adalah menjaga stabilitas harga di dalam negeri serta memastikan nilai tukar rupiah tidak mengalami guncangan yang berarti.
Meskipun suku bunga diprediksi tetap tinggi, ADB memberikan catatan positif mengenai kondisi likuiditas di dalam negeri. Sektor perbankan Indonesia dinilai masih memiliki napas yang panjang untuk mendukung aktivitas ekonomi. Hal ini terbukti dari pertumbuhan penyaluran kredit yang terus menunjukkan tren peningkatan. Data per Agustus 2026 menunjukkan pertumbuhan kredit mencapai 13,65% secara tahunan (yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan capaian bulan Juli yang berada di angka 13,58% (yoy).
Tim ekonom ADB menjelaskan bahwa ketersediaan likuiditas yang cukup serta pemberian insentif makroprudensial akan menjadi kunci dalam menjaga momentum pertumbuhan kredit, terutama untuk sektor-sektor investasi dan sektor prioritas nasional.
Menatap masa depan, optimisme mulai muncul untuk tahun 2027. ADB memprediksi tekanan inflasi impor akan mereda seiring dengan menurunnya harga energi global. Kondisi ini, ditambah dengan aktivitas intermediasi keuangan yang stabil, diharapkan mampu memberikan dorongan tambahan bagi investasi dan permintaan domestik.
Selain itu, posisi eksternal Indonesia diproyeksikan akan membaik secara bertahap. Meskipun permintaan domestik yang kuat akan menjaga angka impor tetap tinggi, sektor ekspor yang didorong oleh komoditas dan barang manufaktur diperkirakan akan tetap tangguh. Penurunan harga minyak dunia juga diharapkan mampu menekan biaya impor energi, sehingga membantu pemulihan neraca perdagangan.
Sentimen positif investor terhadap Indonesia juga menjadi faktor pendukung penting. Peringkat utang negara yang tetap berada pada level layak investasi (investment-grade) serta masuknya Indonesia ke dalam indeks pasar negara berkembang MSCI menjadi magnet bagi aliran modal asing. Dengan arus modal yang berkelanjutan dan defisit transaksi berjalan yang terkendali, ADB memprediksi kebijakan moneter Indonesia akan memiliki ruang untuk menjadi lebih akomodatif pada tahun mendatang.
