agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia dikejutkan dengan pergerakan tajam saham PT Perintis Triniti Properti Tbk. (TRIN). Emiten di sektor properti ini mengalami tekanan jual yang cukup signifikan menyusul kabar pengunduran diri Rahayu Saraswati D. Djojohadikusumo dari posisinya sebagai Komisaris Utama.
Berdasarkan pantauan pergerakan harga di bursa, saham TRIN terpantau anjlok sebesar 6,72 persen atau setara dengan penurunan 16 poin. Harga saham perusahaan tersebut merosot hingga menyentuh level Rp 222 per lembar pada perdagangan siang hari. Fluktuasi ini menunjukkan adanya reaksi instan dari para investor terhadap perubahan struktur kepemimpinan di jajaran dewan komisaris perusahaan.

Jika menilik pergerakan di awal sesi, saham TRIN sebenarnya sempat dibuka dengan optimisme di level Rp 240. Bahkan, sempat terjadi penguatan tipis hingga menyentuh titik tertinggi di angka Rp 248 pada sesi pagi. Namun, sentimen negatif terkait perubahan manajemen segera mengambil alih kendali pasar, yang kemudian menyeret harga saham ke titik terendah di level Rp 214 sebelum akhirnya stabil di angka Rp 222.
Manajemen TRIN melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) mengonfirmasi bahwa perusahaan telah menerima surat pengunduran diri Rahayu Saraswati pada 7 Oktober 2026. Proses pengunduran diri ini nantinya akan difinalisasi melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) sesuai dengan ketentuan hukum dan anggaran dasar perusahaan yang berlaku.
Meski demikian, pihak manajemen berusaha menenangkan pasar dengan menyatakan bahwa pengunduran diri ini tidak akan mengganggu stabilitas operasional maupun kondisi keuangan perusahaan. Hingga keputusan RUPSLB resmi ditetapkan, Rahayu Saraswati tetap akan menjalankan kewajibannya sebagai Komisaris Utama guna memastikan proses transisi berjalan dengan mulus dan profesional.
Menariknya, meski tidak lagi menduduki jabatan strategis di jajaran pengurus, Rahayu dikabarkan tetap mempertahankan posisinya sebagai pemegang saham, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini memberikan sinyal bahwa hubungan antara Rahayu dan TRIN tidak terputus sepenuhnya, dan ia tetap akan berkontribusi dalam kapasitasnya sebagai investor.
Manajemen juga menegaskan bahwa visi besar yang selama ini dibawa oleh Rahayu, seperti pengembangan properti ramah lingkungan dan penguatan perspektif perempuan dalam desain arsitektur, akan tetap menjadi komitmen utama perusahaan ke depan. Langkah ini diambil untuk menjaga kepercayaan pasar dan memastikan keberlanjutan strategi bisnis yang telah dicanangkan sebelumnya.
Saat ini, kapitalisasi pasar TRIN tercatat berada di angka Rp 1,01 triliun dengan rasio harga terhadap laba (PE ratio) sebesar 51,50 kali. Para investor kini tengah menunggu hasil RUPSLB untuk melihat siapa sosok yang akan menggantikan peran strategis Rahayu dalam menakhodai pengawasan perusahaan.
