INET Rogoh Rp280 M! Kuasai Jaringan Bawah Laut RI!
Agroplus – Dunia telekomunikasi di Indonesia kembali dihebohkan dengan langkah strategis yang diambil oleh PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk. (INET). Emiten yang bergerak di bidang telekomunikasi ini baru saja mengumumkan keberhasilannya mengakuisisi PT Sarana Global Indonesia (SGI), sebuah perusahaan yang fokus pada infrastruktur serat optik dan kabel laut. Tak tanggung-tanggung, INET menggelontorkan dana fantastis sebesar Rp280,4 miliar untuk langkah ini, menandai ekspansi besar-besaran ke ranah konektivitas bawah laut yang vital bagi masa depan digital Nusantara.

Akuisisi ini, yang secara resmi tuntas pada 15 September 2026, kini menempatkan SGI sebagai entitas anak INET dengan kepemilikan saham mayoritas 60%. Ini bukan sekadar investasi biasa, melainkan sebuah lompatan bagi INET untuk memperluas jangkauan bisnisnya, terutama dalam pembangunan dan pemeliharaan sistem kabel bawah laut yang krusial bagi konektivitas digital di Indonesia sebagai negara kepulauan.
Proses transaksinya sendiri cukup menarik. INET melakukan penyertaan modal melalui pengambilan saham baru di SGI. Modal dasar SGI ditingkatkan dari Rp12 miliar menjadi Rp50 miliar, sementara modal ditempatkan dan disetor melonjak dari Rp12 miliar menjadi Rp30 miliar. Dari peningkatan ini, SGI menerbitkan 180.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100.000 per saham. Seluruh saham baru ini kemudian diambil alih dan disetor oleh INET. Meskipun nilai nominal total saham baru hanya Rp18 miliar, nilai transaksi yang disepakati mencapai Rp280.403.820.000. Selisih antara nilai transaksi dan nilai nominal saham inilah yang kemudian dicatat sebagai agio saham, menunjukkan nilai strategis SGI yang jauh melampaui nilai nominalnya di mata INET.
Lantas, apa sebenarnya yang membuat SGI begitu menarik hingga INET rela merogoh kocek sedalam itu? Berdasarkan Anggaran Dasar, SGI memiliki cakupan usaha yang luas, mulai dari konstruksi sentral telekomunikasi, jaringan kabel di berbagai medan (darat, bawah tanah, bawah air), hingga aktivitas telekomunikasi kabel laut, pemasangan jaringan listrik, dan jasa akses internet. Namun, fokus utama SGI saat ini adalah pada rekayasa, pengadaan, konstruksi (EPC), serta pemeliharaan sistem kabel bawah laut untuk serat optik dan kabel listrik. Ini adalah sektor yang sangat vital, mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan sangat bergantung pada "jalan tol" digital di bawah laut untuk internet cepat dan stabil.
Dengan masuknya SGI sebagai entitas anak, INET kini tidak hanya memperkuat posisinya di sektor telekomunikasi darat, tetapi juga merambah ke infrastruktur konektivitas bawah laut yang menjadi tulang punggung internet di Indonesia. Sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi BEI, langkah ini memperluas cakupan kegiatan usaha grup Perseroan ke bidang EPC dan pemeliharaan sistem kabel bawah laut untuk serat optik dan kabel listrik. Ini adalah langkah cerdas untuk mendiversifikasi portofolio bisnis dan menangkap peluang besar di pasar infrastruktur digital yang terus berkembang pesat. Ke depan, grup INET akan memiliki kapabilitas yang lebih lengkap dalam menyediakan solusi konektivitas end-to-end, dari darat hingga dasar laut.
Sebelum transaksi ini, kepemilikan SGI didominasi oleh Chandra Arie Setiawan dengan 119.999 saham atau sekitar 99,9992%, serta Bayu Erriano Affia, S.E. dengan satu saham. Kini, peta kepemilikan telah berubah drastis. INET menjadi pemegang saham pengendali mayoritas dengan 180.000 saham atau 60%, sementara Chandra Arie Setiawan memiliki 119.999 saham (39,9997%), dan Bayu Erriano Affia tetap dengan satu saham (0,0003%). Perubahan ini menunjukkan komitmen INET untuk serius menggarap potensi besar di sektor kabel bawah laut, yang merupakan fondasi penting bagi kemajuan digital bangsa.
