Agroplus – Di tengah pusaran ketidakpastian geopolitik dan turbulensi ekonomi global yang terus bergejolak, serta sorotan tajam dari penyedia indeks terhadap lanskap keuangan Indonesia, Direktur Ashmore Asset Management, Steven Satya Yudha, justru melihat secercah harapan. Ia menegaskan bahwa investasi di pasar keuangan Tanah Air masih menyimpan potensi yang sangat menjanjikan bagi para investor, kendati diwarnai berbagai tantangan.
Mengulas lebih dalam, Steven menyoroti daya tarik instrumen obligasi, khususnya Surat Berharga Negara (SBN). Secara historis, SBN Indonesia menawarkan imbal hasil yang kompetitif, bahkan disebut-sebut sebagai yang terbaik di antara obligasi pasar berkembang di Asia. Namun, ia mengingatkan, tingginya potensi keuntungan ini juga diiringi dengan tingkat risiko yang patut dipertimbangkan investor. Oleh karena itu, perbaikan isu transparansi dan tata kelola (governance) menjadi prasyarat krusial untuk menumbuhkan kepercayaan pasar dan mengurangi kekhawatiran yang ada.

Beralih ke pasar saham, Steven memaparkan bahwa valuasi saham-saham di Indonesia saat ini berada pada level yang sangat atraktif, bahkan cenderung terdiskon. Ditambah lagi, penawaran dividen yang menggiurkan serta fundamental ekonomi yang secara teoritis masih menunjukkan pertumbuhan yang solid, menjadikan pasar modal domestik cukup menarik di mata investor. Kendati demikian, ia mengakui bahwa sektor saham masih diselimuti awan ketidakpastian dan sejumlah risiko yang perlu dicermati oleh para pelaku pasar.
Lantas, instrumen apa saja yang menjadi incaran para pengelola dana jumbo atau investor kakap dalam menghadapi fluktuasi pasar domestik yang penuh tantangan ini? Untuk mendapatkan analisis mendalam dan strategi investasi dari Steven Satya Yudha, dialog lengkapnya dapat disimak dalam program Power Lunch CNBC, di mana ia berbincang dengan Andi Shalini pada Kamis, 8 Juli 2026. Informasi lebih lanjut mengenai pandangan investasi terkini dapat diakses melalui portal agroplus.co.id.
