Agroplus – Jakarta – Di tengah geliat pembangunan infrastruktur yang tak henti, sebuah gagasan revolusioner muncul dari Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Bukan sekadar mengejar target finansial atau volume kendaraan, lembaga ini kini mendorong BUMN transportasi, khususnya PT Jasa Marga (Persero) Tbk., untuk bertransformasi total demi meningkatkan kualitas pelayanan yang berdampak langsung pada kenyamanan dan keselamatan masyarakat pengguna jalan. Ini adalah langkah maju yang patut dicermati, seolah menanam benih pelayanan prima yang diharapkan akan tumbuh subur dan memberikan hasil yang optimal bagi setiap perjalanan.
Wamildan Tsani Panjaitan, Senior Director Transportation Sector Danantara Aset Manajemen (DAM), menegaskan bahwa keberhasilan sebuah perusahaan BUMN di sektor vital seperti transportasi tidak lagi bisa diukur hanya dari pertumbuhan volume lalu lintas, pendapatan tol, atau tuntasnya proyek-proyek strategis. "Ukuran sejati adalah senyum pengguna jalan, kemudahan mereka dalam bepergian, dan rasa aman yang menyelimuti setiap perjalanan," ujarnya saat berkunjung ke Danantara Housing Expo 2026. Ia menekankan pentingnya kondisi jalan yang terjaga, kelancaran arus lalu lintas yang semakin baik, jaminan keselamatan pengguna yang terjamin, serta kemampuan mengantisipasi dan menangani gangguan secara cepat. Ini adalah fondasi yang harus kokoh, layaknya tanah subur bagi tanaman yang akan menghasilkan panen melimpah.

Untuk mewujudkan visi tersebut, Danantara secara khusus mendorong optimalisasi fitur Travoy. Aplikasi ini dirancang sebagai sebuah ekosistem digital terpadu yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan perjalanan. Bayangkan, dari rumah hingga tujuan, semua bisa dipersiapkan dan dijalani dengan lebih mulus, aman, dan tentu saja, nyaman, hanya dalam satu genggaman.
Gayung bersambut, Direktur Utama Jasa Marga, Rivan A. Purwantono, menjelaskan bahwa transformasi perusahaan memang sedang berjalan. Mereka tidak lagi hanya membangun infrastruktur fisik, melainkan bergeser menciptakan "infraculture" – sebuah budaya pelayanan yang berorientasi penuh pada kebutuhan pengguna jalan. "Kami ingin mendorong transformasi peradaban melalui pergeseran dari sekadar infrastruktur menjadi infraculture, dengan mengubah paradigma yang semula berfokus pada pengembangan jalan tol sebagai aset fisik menuju budaya pelayanan terbaik dalam menghadirkan pengalaman perjalanan penuh arti," tutur Rivan. Ini adalah filosofi yang mendalam, mengubah beton dan aspal menjadi kanvas pengalaman yang berharga.
Aplikasi Travoy, lanjut Rivan, adalah jantung dari ekosistem digital ini. Ia menjembatani keterkaitan esensial antara hunian dan mobilitas, dua aspek yang tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Mulai dari gerbang tol, pengguna bisa menikmati kemudahan transaksi digital seperti struk elektronik, pengisian saldo, hingga transaksi nirsentuh berbasis stiker Radio Frequency Identification (RFID). Saat tiba waktunya beristirahat, Travoy Rest akan menjadi panduan, menyajikan informasi lengkap fasilitas rest area, termasuk lokasi SPBU dan SPKLU. Dan jika ada kendala di perjalanan, One Call Center 133 siap sedia dengan layanan derek dan bantuan petugas lapangan. Semua ini dirancang untuk memastikan setiap pengguna merasa didukung dan dilayani, layaknya petani yang merawat tanamannya dari awal hingga panen.
Dengan dorongan kuat dari Danantara dan komitmen Jasa Marga, masa depan perjalanan di jalan tol Indonesia tampaknya akan semakin cerah. Bukan hanya dari segi fisik, tetapi juga dari kualitas pengalaman yang ditawarkan. Sebuah revolusi pelayanan yang berpusat pada manusia, siap membawa dampak positif bagi jutaan pengguna jalan setiap harinya, menjadikan setiap perjalanan lebih dari sekadar perpindahan, melainkan sebuah pengalaman yang berharga.
