agroplus.co.id – Maskapai nasional kebanggaan Indonesia, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA), tengah menyiapkan langkah besar untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan. Melalui skema penambahan modal dengan memberikan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) III atau rights issue, Garuda berencana menerbitkan sebanyak-banyaknya 248,71 miliar lembar saham baru.
Langkah strategis ini bukan sekadar penambahan modal biasa. Dalam aksi korporasi kali ini, PT Danantara Asset Management (DAM) selaku pemegang saham pengendali, akan melakukan penyetoran modal dalam bentuk non-tunai atau inbreng. Adapun aset yang disetorkan adalah saham PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI), perusahaan penyedia jasa perawatan pesawat (MRO) milik grup Garuda.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis pada 4 November 2026, Garuda berencana menerbitkan saham baru Seri E dengan nilai nominal Rp25 per saham. Sementara itu, harga pelaksanaan rights issue diprediksi berada di rentang Rp58 hingga Rp68 per saham. Harga final nantinya akan ditentukan lebih lanjut dalam prospektus resmi sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Objek inbreng yang diserahkan oleh DAM mencakup 82,10 miliar saham Seri B GMFI, yang setara dengan 65,77% dari total modal ditempatkan dan disetor di perusahaan perawatan pesawat tersebut. Langkah ini merupakan bagian dari peta jalan Rancangan Restrukturisasi Penyehatan Keuangan Garuda Indonesia Group untuk periode 2025-2029 yang telah disetujui oleh Menteri BUMN pada Juni 2025 lalu.
Melalui skema ini, DAM akan menggunakan haknya untuk menyetorkan saham GMFI sebagai modal ke Garuda Indonesia. Di sisi lain, para pemegang saham lainnya tetap diberikan kesempatan untuk mengambil hak mereka dengan melakukan penyetoran dalam bentuk uang tunai.
Manajemen Garuda Indonesia meyakini bahwa aksi korporasi ini akan membawa angin segar bagi kesehatan finansial perseroan. Selain untuk memperbaiki ekuitas secara mandiri (standalone), langkah ini bertujuan untuk mengoptimalkan pengelolaan aset dan memperluas pengembangan bisnis. Dengan menguasai lebih banyak saham GMFI, Garuda diharapkan memiliki kendali lebih kuat serta mendapatkan keuntungan ekonomi yang lebih besar dari lini bisnis perawatan pesawat.
Sinergi antara operasional penerbangan Garuda dengan layanan MRO milik GMFI juga diprediksi akan semakin erat, menciptakan efisiensi yang lebih tinggi di dalam grup. Namun, investor perlu memperhatikan risiko dilusi. Bagi pemegang saham yang tidak mengambil haknya dalam rights issue ini, potensi penurunan persentase kepemilikan saham bisa mencapai angka maksimal 37,92%.
Jika menilik kondisi keuangan saat ini, Garuda memang masih berjuang keluar dari zona merah. Hingga semester pertama tahun 2026, grup Garuda mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$1,80 miliar, namun masih membukukan rugi bersih sebesar US$112,96 juta. Meski angka kerugian ini menunjukkan perbaikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, beban liabilitas perusahaan masih cukup besar, yakni mencapai US$7,43 miliar dengan ekuitas negatif sebesar US$52,15 juta. Oleh karena itu, rights issue ini menjadi krusial untuk memperbaiki neraca keuangan perusahaan.
