agroplus.co.id – Pasar modal Indonesia menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan sesi pertama hari ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil melesat ke zona hijau dengan kenaikan signifikan sebesar 96,41 poin atau tumbuh 1,96 persen. Saat penutupan sesi tengah hari, indeks bertengger di level 5.016,18, memberikan sentimen positif bagi para pelaku pasar.
Aktivitas perdagangan di bursa juga terlihat sangat bergairah. Tercatat, total volume transaksi yang terjadi mencapai angka 145,24 juta lot dengan nilai transaksi yang menembus Rp5.721,13 miliar. Lonjakan ini sejalan dengan derasnya arus modal masuk dari investor mancanegara yang kembali mempercayai pasar saham domestik.

Berdasarkan data dari Stockbit, investor asing mencatatkan aksi beli bersih atau net foreign buy sebesar Rp72,93 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Secara keseluruhan, total nilai pembelian oleh investor asing mencapai Rp1,93 triliun, sementara total nilai penjualan mereka berada di angka Rp1,85 triliun.
Saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip menjadi primadona utama bagi para pemodal asing. PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memimpin pergerakan dengan nilai pembelian bersih mencapai Rp143,15 miliar dengan volume sebanyak 28,19 juta saham. Menyusul di posisi kedua, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) juga diborong asing senilai Rp83,45 miliar dengan volume 41,87 juta saham.
Ketertarikan asing juga mengalir deras ke sektor pertambangan, di mana PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) mencatatkan net buy sebesar Rp61,54 miliar. Selain itu, beberapa saham lain yang masuk dalam radar belanja asing antara lain PT Astra International Tbk. (ASII) sebesar Rp47,57 miliar, PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) senilai Rp45,73 miliar, dan PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA) sebesar Rp36,65 miliar.
Melengkapi daftar sepuluh besar saham yang diborong, terdapat PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) dengan nilai Rp16,93 miliar, PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) sebesar Rp16,73 miliar, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) senilai Rp14,33 miliar, serta PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) sebesar Rp13,33 miliar. Menariknya, saham DEWA dan BRMS mencatatkan volume transaksi yang sangat masif, masing-masing mencapai 62,25 juta dan 40,52 juta saham.
Namun, di balik euforia pembelian tersebut, sektor perbankan lainnya justru mengalami tekanan jual. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) menjadi saham yang paling banyak dilepas investor asing dengan nilai net sell mencapai Rp105,95 miliar. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) juga tidak luput dari aksi jual dengan nilai Rp71,19 miliar.
Selain perbankan, sektor energi dan petrokimia juga mengalami tekanan. Beberapa saham yang mencatatkan aksi jual bersih antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), hingga PT Bukit Asam Tbk. (PTBA). Fenomena ini menunjukkan adanya rotasi sektor yang sedang terjadi di pasar modal, di mana investor asing cenderung mengalihkan dana mereka ke saham-saham dengan fundamental kuat dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan di tengah dinamika pasar saat ini.
