agroplus.co.id – Dunia militer dan finansial Amerika Serikat tengah diguncang oleh skandal besar yang melibatkan penyalahgunaan informasi rahasia negara. Seorang anggota militer aktif AS diduga memanfaatkan data intelijen sensitif terkait operasi penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, untuk meraup keuntungan fantastis di pasar taruhan digital.
Pria yang diidentifikasi sebagai Gannon Ken Van Dyke ini dituduh melakukan praktik insider trading atau perdagangan orang dalam melalui platform prediksi populer, Polymarket. Berdasarkan dakwaan federal, Van Dyke diduga berhasil mengantongi keuntungan bersih lebih dari US$400.000 atau setara dengan Rp7,24 miliar hanya dengan memanfaatkan informasi yang seharusnya dijaga ketat demi keamanan nasional.

Kasus ini mencuat setelah adanya aktivitas perdagangan yang sangat tidak wajar pada kontrak taruhan terkait nasib kepemimpinan di Venezuela. Mengutip laporan dari Financial Times, Van Dyke yang bertugas di Fort Bragg, North Carolina, diduga melakukan serangkaian taruhan strategis antara bulan Desember hingga Januari. Ia memasang sekitar 13 taruhan dengan total modal awal mencapai US$33.034.
Taruhan tersebut mencakup prediksi spesifik seperti keterlibatan pasukan AS di Venezuela serta kemungkinan jatuhnya kekuasaan Maduro sebelum tenggat waktu 31 Januari. Karena memiliki akses langsung terhadap rencana operasi militer, Van Dyke mampu menebak hasil akhir dengan akurasi yang mustahil dimiliki warga sipil biasa.
Pelaksana Tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, memberikan pernyataan tegas terkait insiden ini. Ia menekankan bahwa personel militer memegang mandat kepercayaan yang sangat tinggi untuk mengakses informasi rahasia demi keberhasilan misi negara. Namun, kepercayaan tersebut tidak boleh dikhianati demi kepentingan finansial pribadi. Blanche juga menambahkan bahwa meskipun pasar prediksi merupakan fenomena baru, hukum federal mengenai perlindungan keamanan nasional tetap berlaku mutlak.
Setelah meraih keuntungan miliaran rupiah, Van Dyke diduga mencoba menghilangkan jejak dengan memindahkan sebagian besar dana tersebut ke brankas kripto di luar negeri. Dana tersebut kemudian dialihkan ke akun broker daring baru guna menyamarkan asal-usul uang hasil taruhan tersebut.
Atas tindakan nekatnya, Van Dyke kini menghadapi ancaman hukuman yang sangat berat. Ia didakwa dengan tiga pelanggaran Commodity Exchange Act, satu tuduhan penipuan transmisi elektronik (wire fraud), serta satu tuduhan transaksi moneter ilegal. Setiap dakwaan tersebut membawa ancaman hukuman penjara antara 10 hingga 20 tahun.
Pihak Polymarket sendiri menyatakan telah bekerja sama sepenuhnya dengan Departemen Kehakiman AS dalam penyelidikan ini. Mereka mengonfirmasi telah mengidentifikasi pengguna yang mencoba memanfaatkan informasi pemerintah yang bersifat rahasia untuk bertransaksi di platform mereka. Hingga saat ini, pihak Pentagon maupun Angkatan Darat AS masih enggan memberikan komentar lebih lanjut terkait status hukum prajurit mereka tersebut.
