agroplus.co.id – Mata uang Garuda akhirnya menunjukkan taringnya setelah sempat terpuruk dalam tekanan hebat. Setelah sempat mencatatkan rekor penutupan terlemah sepanjang sejarah, rupiah berhasil membalikkan keadaan dan menutup perdagangan pekan ini dengan tren positif. Pada penutupan perdagangan Jumat (30/10/2026), rupiah tercatat menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), menandai keberhasilan penguatan selama dua hari berturut-turut.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, nilai tukar rupiah berakhir di level Rp18.120 per dolar AS. Jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada Kamis (29/10/2026) yang berada di angka Rp18.125 per dolar AS, rupiah mencatatkan kenaikan tipis sebesar 0,03 persen. Meski kenaikannya terlihat moderat, momentum ini menjadi angin segar bagi stabilitas moneter domestik setelah sempat mengalami tekanan yang sangat dalam.

Di sisi lain, kekuatan dolar AS justru tampak meredup. Indeks dolar (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, terpantau melemah 0,23 persen ke posisi 101,800 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan dolar ini menjadi salah satu faktor pendukung yang memberikan ruang bagi rupiah untuk bernapas lega.
Dinamika pergerakan rupiah di akhir pekan ini dipicu oleh kombinasi sentimen dari pasar global dan kebijakan domestik. Dari kancah internasional, data pasar tenaga kerja Amerika Serikat sebenarnya menunjukkan kondisi yang cukup tangguh. Klaim awal tunjangan pengangguran di Negeri Paman Sam turun menjadi 194.000 pada pekan yang berakhir 24 Oktober, lebih rendah dari angka pekan sebelumnya yang sebesar 195.000, serta di bawah ekspektasi pasar yang memprediksi angka 199.000. Selain itu, klaim pengangguran berkelanjutan juga menyentuh level terendah dalam tiga tahun terakhir di angka 1,701 juta.
Meskipun data tenaga kerja AS yang solid memberikan ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk bersikap hati-hati terkait kebijakan suku bunga, hal tersebut ternyata belum cukup kuat untuk menahan laju pelemahan dolar AS di pasar global.
Sementara itu, dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar tertuju pada langkah Bank Indonesia (BI) dalam meredam kekhawatiran akan potensi depresiasi rupiah yang ekstrem. Sebelumnya, sempat muncul kekhawatiran bahwa rupiah bisa merosot hingga ke kisaran Rp20.000 hingga Rp21.000 per dolar AS akibat potensi keluarnya aliran modal asing dari pasar modal Indonesia.
Menanggapi isu tersebut, Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan komitmen penuh bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Destry menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia saat ini masih berada dalam kondisi yang sangat baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain dalam kelompok yang setara (peer group).
"Tugas kami di Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas rupiah. Memang banyak faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang, namun jika melihat fundamental ekonomi kita, kondisi kita relatif oke," tegas Destry kepada media.
Untuk memastikan stabilitas tersebut tetap terjaga, BI tidak hanya mengandalkan kebijakan suku bunga. Bank sentral juga telah menyiapkan berbagai instrumen strategis lainnya, mulai dari pemberian insentif biaya lindung nilai (hedging), kebijakan makroprudensial, hingga optimalisasi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menarik minat investor dan memperkuat cadangan devisa.
