Agroplus – Prospek investasi emas dunia diproyeksikan akan terus bersinar terang, bahkan hingga beberapa tahun ke depan. JP Morgan, raksasa jasa keuangan asal Amerika Serikat, baru-baru ini melontarkan prediksi yang cukup mencengangkan, sementara di kancah domestik, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menunjukkan kinerja gemilang yang ditopang oleh bisnis logam mulia ini.
Menurut laporan yang dikutip dari Yahoo Finance, analis JP Morgan memperkirakan harga emas global berpotensi menembus angka US$6.000 per ounce pada tahun 2026. Bahkan, tak menutup kemungkinan bisa mencapai US$6.300 per ounce. Kenaikan signifikan ini didorong oleh beberapa faktor krusial, termasuk meningkatnya ketegangan geopolitik global yang menciptakan ketidakpastian ekonomi, menjadikan emas sebagai aset ‘safe haven’ yang sangat diminati. Mereka juga menyoroti pergerakan harga emas yang menunjukkan pertumbuhan signifikan, menjadi landasan kuat bagi keyakinan akan lonjakan harga di masa depan. Selain itu, lonjakan pembelian oleh bank sentral dunia serta ketergantungan global terhadap logam mulia ini juga menjadi pendorong utama. Para pakar investasi juga menyoroti inflasi sebagai faktor paling dominan, mengingat keterbatasan pasokan emas. Saat daya beli mata uang melemah akibat kenaikan harga barang dan jasa, investor cenderung beralih ke emas sebagai pelindung nilai.

Gelombang minat investasi pada logam mulia ini tidak hanya terasa di panggung global, tetapi juga di Indonesia. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) berhasil membukukan laba bersih fantastis sebesar Rp7,92 triliun pada tahun buku 2025. Angka ini melonjak tajam 106% dibandingkan laba tahun 2024 yang sebesar Rp3,85 triliun. Peningkatan laba ini sejalan dengan kenaikan pendapatan perseroan yang mencapai Rp84,64 triliun di tahun 2025, naik 22% dari Rp69,19 triliun pada tahun sebelumnya. Yang menarik, kontribusi terbesar terhadap kinerja cemerlang ANTM ini berasal dari bisnis emas, menyumbang sekitar 79% dari total penjualan perusahaan.
Penjualan emas ANTM sendiri tercatat mencapai Rp66,47 triliun sepanjang tahun 2025, meningkat 15% dari Rp57,56 triliun di tahun 2024, didukung oleh permintaan pasar yang terus kuat. Merespons tingginya animo ini, ANTM aktif memperluas jaringan perdagangan produk logam mulia, baik melalui kolaborasi strategis maupun penguatan ekosistem emas nasional. Perusahaan ini menawarkan beragam pilihan investasi, mulai dari emas fisik hingga emas fisik digital yang memungkinkan kepemilikan dan transaksi via ponsel. Bagi investor yang menginginkan kemudahan tanpa perlu repot menyimpan emas fisik, ANTM juga menyediakan layanan BRANKAS (Berencana Aman Kelola Emas), sebuah produk emas fisik digital yang praktis.
Keunggulan emas ANTM juga terletak pada kualitasnya yang diakui dunia. Emas produksi ANTM memiliki sertifikat standar London Bullion Market Association (LBMA) 99,5%. Bahkan, Direktur Komersial PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), Handi Sutanto, menegaskan bahwa emas Antam memiliki kemurnian 99,99%, melebihi standar LBMA. "Antam itu 99,99%, above LBMA. Kami sampaikan ke masyarakat, kita perlu lebih giat mengedukasi. Karena ini bukan hanya soal uang tapi juga kualitas," ujar Handi Sutanto, Kamis (11/9/2026). Ia juga memastikan bahwa harga emas Antam selalu berpatokan pada harga emas dunia dan menepis isu ‘orang dalam’ terkait ketersediaan stok. "Kami jauh dari situ. Ini blessing not so much. Kami imbau masyarakat hati-hati investasi tergantung jangka pendek tengah panjang. Ini gift untuk Antam kami terus berbenah diri," tambahnya, merujuk pada tingginya permintaan emas Antam di tengah lonjakan harga.
Dengan proyeksi harga emas global yang terus menanjak dan kinerja solid dari emiten seperti ANTM, prospek investasi logam mulia ini memang tampak sangat menjanjikan. Emas terus membuktikan diri sebagai pilihan strategis bagi investor yang mencari stabilitas dan pertumbuhan di tengah ketidakpastian ekonomi global.
