Agroplus – Ibarat musim tanam yang menjanjikan, perekonomian Indonesia pada tahun 2026 diproyeksikan akan tumbuh subur di kisaran 5,1 hingga 5,3%. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan sinyal kuat bagi para investor untuk mulai menabur benih investasi di tengah dinamika Tahun Kuda Api yang penuh semangat. Prospek cerah ini membuka gerbang bagi berbagai instrumen investasi yang berpotensi membawa hasil panen melimpah.
Helmy Kristanto, Chief Economist, Macro Strategist & Debt Research Division Head PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), melihat optimisme ini sebagai bibit unggul yang siap tumbuh. "Indeks Kepercayaan Konsumen kita melonjak ke 127, tertinggi dalam setahun terakhir, menunjukkan semangat masyarakat untuk beraktivitas ekonomi," ujarnya. Ia menambahkan, likuiditas yang melonggar, ditandai pertumbuhan uang beredar (M2) sebesar 9,6%, serta ekspansi kredit perbankan, adalah pupuk yang menyuburkan aktivitas usaha. Ditambah lagi, potensi pelonggaran suku bunga global bisa menjadi angin segar, membuka gerbang bagi modal asing untuk mengalir ke pasar berkembang seperti Indonesia.

Dalam laporan Market Outlook 2026, Helmy menekankan bahwa kombinasi kebijakan ekonomi yang tepat telah menciptakan lahan subur. "Daya beli masyarakat membaik, likuiditas berlimpah, dan roda usaha berputar lebih kencang. Ini adalah formula klasik untuk penguatan pasar modal. Investor yang cermat dan disiplin, layaknya petani yang memahami musim, akan memiliki peluang besar untuk memanen pertumbuhan ini," paparnya. BRIDS sendiri merekomendasikan kombinasi saham dan obligasi, ibarat menanam berbagai jenis komoditas untuk diversifikasi. Suku bunga global yang stabil dan kebijakan moneter domestik yang akomodatif menjadikan instrumen pendapatan tetap tetap menarik, sementara saham berpotensi tumbuh seiring membaiknya fundamental perusahaan.
Senada dengan pandangan ekonomi, Yulius Fang, Founder Feng Shui Consulting Indonesia, mengingatkan bahwa Tahun Kuda Api, meski membawa energi optimisme dan pergerakan cepat, menuntut kedisiplinan layaknya merawat tanaman. "Kunci sukses bukan pada kecepatan semata, melainkan pada strategi yang tenang dan bertahap. Investor perlu mengatur arus kas dengan bijak, menghindari euforia berlebihan, dan fokus pada pertumbuhan yang konsisten. Ingat, ‘slow and steady win the race’ – langkah mantap dan berkelanjutan akan menghasilkan panen yang lebih melimpah," pesannya, menekankan pentingnya kesabaran dan strategi jangka panjang.
Sebagai cerminan kesuburan pasar modal, data dari tahun sebelumnya juga patut diperhatikan. Pada 2025, Inarno Djajadi, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, mengungkapkan bahwa Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah menorehkan rekor tertinggi hingga 24 kali. Ini menunjukkan betapa kuatnya akar ekonomi RI dan sentimen positif global yang menjadi pupuk bagi pertumbuhan pasar modal. IHSG berhasil ditutup di level 8.646,94, menguat 22,13% secara tahunan, sebuah hasil panen yang menggembirakan bagi banyak investor.
Dengan prospek ekonomi yang cerah dan dukungan berbagai indikator, tahun 2026 memang menjanjikan. Namun, seperti halnya bertani, keberhasilan investasi membutuhkan perencanaan matang, ketekunan, dan kemampuan membaca tanda-tanda alam ekonomi. Mari bersiap menanam dan memanen hasil terbaik!
