agroplus.co.id – Kawasan Matraman saat ini telah bertransformasi menjadi salah satu urat nadi kehidupan di Jakarta. Sebagai wilayah yang padat penduduk dan pusat aktivitas ekonomi, Matraman identik dengan hiruk pikuk kemacetan, deretan ruko, serta pemukiman yang rapat. Namun, jika kita menarik garis waktu ke belakang, wajah Matraman yang modern ini menyimpan rahasia sejarah yang sangat kontras dengan kondisinya sekarang.
Jauh sebelum beton-beton pencakar langit dan aspal jalanan mendominasi, wilayah ini merupakan sebuah wilayah luas yang dikuasai secara pribadi oleh seorang pria asal Belanda. Sosok tersebut adalah J.M.L. Bohl, seorang magnat tanah yang namanya pernah menggetarkan struktur kepemilikan lahan di Batavia pada era kolonial.

Perjalanan Bohl dimulai dari titik yang sangat rendah. Berdasarkan catatan arsip sejarah, ia menginjakkan kaki di Batavia pada tahun 1864. Saat itu, ia hanyalah seorang pemuda berusia 16 tahun yang datang untuk mencari peruntungan di tanah jajahan. Ia memulai kariernya sebagai pekerja di sebuah perusahaan perdagangan ternama, Pitcairn Syme & Co. Namun, ambisi dan ketekunannya membawa ia melampaui sekadar pekerja biasa.
Bohl mulai mengalihkan seluruh pundi-pundi kekayaannya ke sektor properti. Strategi ini terbukti sangat jitu. Ia berhasil mengakuisisi lahan-lahan luas, termasuk wilayah Matraman dan Sinajan yang terletak di dekat Paal Merah. Puncaknya, catatan direktori perdagangan tahun 1896 menunjukkan bahwa Bohl menguasai lahan seluas 502 bau, atau jika dikonversi ke ukuran modern, mencapai sekitar 400 hektare.
Di atas lahan seluas itu, Bohl membangun sebuah istana pribadi yang sangat mewah. Untuk menunjukkan status sosialnya yang tinggi, ia tidak hanya membangun rumah megah, tetapi juga memelihara puluhan ekor rusa yang dibiarkan berkeliaran di area tanah miliknya. Pemandangan rusa di tengah kawasan Matraman tentu menjadi pemandangan yang sangat eksotis dan tidak lazim pada masa itu.
Selama 41 tahun, Bohl memegang kendali penuh atas tanah partikelir Matraman. Ia mengubah kawasan tersebut menjadi lahan agrikultur yang sangat produktif, terutama untuk komoditas padi dan kelapa. Meskipun memiliki kekuasaan ekonomi yang luar biasa, Bohl dikenal sebagai sosok yang sangat tertutup. Ia jarang berinteraksi dengan masyarakat luas dan lebih memilih menjalani kehidupan yang menyendiri di balik kemewahan asetnya.
Meski cenderung menjauh dari publik, pengaruhnya sempat merambah ke ranah politik lokal saat ia mencalonkan diri sebagai anggota dewan perwakilan untuk wilayah Meester Cornelis atau yang sekarang kita kenal sebagai Jatinegara.
Kisah sang penguasa tanah ini berakhir dengan tragis pada 18 Juni 1920. Bohl wafat di usia 72 tahun di sebuah rumah sakit di kawasan Salemba setelah menjalani operasi usus buntu yang berujung pada komplikasi gagal ginjal. Kematiannya sekaligus menutup era kepemilikan pribadi atas tanah Matraman, yang kemudian asetnya diambil alih oleh pemerintah kolonial. Kini, jejak kemewahan sang tuan tanah telah hilang ditelan zaman, berganti menjadi denyut nadi Jakarta yang tak pernah tidur.
