agroplus.co.id – Ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang terus memanas telah membawa pasar komoditas ke dalam fase yang penuh ketidakpastian. Di tengah badai ekonomi ini, emas kembali mengukuhkan posisinya sebagai instrumen safe haven atau aset pelindung nilai yang paling dicari oleh para investor. Sepanjang tahun 2026, harga emas dunia menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi, dengan pergerakan harga yang tertahan di level psikologis USD 4.000 per troy ons.
Kondisi ini menciptakan dilema bagi masyarakat: apakah sebaiknya menyimpan emas dalam bentuk fisik yang bisa dipegang langsung, atau beralih ke emas digital yang lebih praktis? Fenomena ini menjadi perbincangan hangat seiring dengan fluktuasi harga emas lokal yang cukup ekstrem.

Direktur Utama IndoGold, Indra Sjuriah, mengungkapkan bahwa dinamika harga emas pada tahun 2026 ini memang sangat tidak menentu. Ia memberikan catatan bahwa harga emas fisik di pasar domestik sempat melonjak tajam hingga menyentuh angka Rp 3.100.000 per gram. Namun, setelah mencapai puncak tersebut, harga mengalami koreksi yang cukup signifikan hingga turun sekitar 20 persen dari level tertingginya.
Meski harga mengalami fluktuasi, minat masyarakat untuk berinvestasi emas tidak surut. Justru, terjadi pergeseran tren yang menarik di mana investasi emas digital mengalami pertumbuhan yang sangat pesat, hampir menyamai popularitas emas fisik. Hal ini menunjukkan bahwa literasi keuangan masyarakat terhadap instrumen investasi berbasis teknologi semakin meningkat.
IndoGold mencatat bahwa meskipun keduanya tumbuh, terdapat perbedaan karakteristik yang mencolok antara segmen pembeli emas fisik dan emas digital. Pembeli emas fisik umumnya merupakan investor dengan modal yang lebih besar atau mereka yang ingin memiliki aset secara nyata. Transaksi emas fisik didominasi oleh pembelian dalam satuan 5 gram hingga 100 gram. Kelompok ini biasanya mengutamakan aspek keamanan psikologis dengan memegang aset secara langsung.
Di sisi lain, emas digital menjadi primadona bagi segmen investor ritel dan generasi muda yang lebih mengutamakan fleksibilitas. Pembeli emas digital cenderung menyesuaikan jumlah pembelian dengan kondisi keuangan mereka saat itu. Keunggulan utama emas digital adalah kemampuannya untuk dibeli dalam nominal yang sangat kecil dan murah, sehingga siapa pun bisa mulai berinvestasi tanpa harus menunggu memiliki modal besar.
Menghadapi gejolak pasar yang masih berlanjut, pemilihan antara emas fisik dan digital sangat bergantung pada tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing individu. Emas fisik cocok bagi mereka yang ingin diversifikasi aset jangka panjang dengan kepemilikan nyata, sementara emas digital menawarkan kemudahan likuiditas dan aksesibilitas bagi mereka yang ingin mencicil investasi secara bertahap. Dengan kondisi pasar yang volatil, memahami karakteristik kedua instrumen ini menjadi kunci utama dalam mengamankan kekayaan di masa depan.
